Sunday, December 12, 2010

(500) Days of Summer : My ‘Personal-Feeling’ Movie

Seringkali gue menonton film yang jalan ceritanya mirip seperti apa yang pernah gue alami, atau sifat tokoh-tokohnya malah mirip dengan sifat-sifat gue, atau dengan teman dan orang-orang yang ada di sekitar gue. Gue suka menonton film seperti itu. Rasanya seperti melihat kehidupan sendiri di dalam sebuah kotak berukuran 24 inci. Sangat menyenangkan. Buat gue, film-film seperti itu merupakan sarana refleksi yang bagus. Hanya saja, Film (500) days of Summer yang gue tonton lima hari yang lalu, lebih dari sekedar film seperti itu. Oke, film ini memang memiliki banyak kesamaan dengan Hidup gue, (kecuali, tentu saja, Joseph Gordon-Levitt yang tampan itu tidak sama dengan gue yang abstrak) juga dengan orang-orang di sekitar gue, atau momen-momen spesial dalam hidup gue mungkin. Tapi, gue suka Film ini bukan hanya karena kesamaan itu, melainkan karena, melalui tokohnya, Tom Hansen, film ini mempertontonkan kepada gue betapa kacaunya tampang seseorang yang stuck dengan satu orang dan susah (atau tidak ingin) melupakannnya. Kacau. Gue jadi bergumam sendiri, apakah gue separah ini begini ketika memutuskan untuk tidak melupakan ‘Rika’ dulu? Apakah Mata gue sekosong itu? Apakah Rambut gue tumbuh tidak sama panjang seperti dia itu? Oh, well, menonton film ini tidak hanya seperti menonton tentang pengalaman hidup. Menonton film ini seperti menonton sebuah perasaan seorang laki-laki yang bimbang, yang kacau, yang gelisah dan menjelma menjadi sosok seorang bernama Tom Hansen. Yah, mulai saat ini, gue akan memanggil perasaan kacau dan gelisah gue dengan nama Tom. (Hei, Tom, baguslah kamu tidak nongol dalam beberapa hari ini). Berikut resensi gue untuk film yang sangat personal ini.

(500) Days of Summer


Cast: Joseph Gordon-Levitt, Zooey Deschanel
Genre: Drama

Film ini bercerita tentang 500 hari kisah cinta antara Tom Hansen (Joseph Gordon-Levitt) dengan Summer (Zooey Deschanel). Atau lebih tepatnya, bukan kisah cinta. Gue lebih melihat film ini sebagai sebuah cerita tentang pendewasaan seseorang. Bagaimana seorang pemuda biasa mengalami serentetan kejadian yang mengubah sudut pandangnya, tentang cin… maksud gue, tentang bagaimana dia menyikapi perasaannya sendiri. Bagaimana dia berusaha melupakan seorang Summer, yang dianggapnya seperti Robot, yang tidak punya perasaan, yang mati rasa.
Tom dan Summer si 'robot' wanita
Soal alur, film ini mungkin agak unik. Alurnya maju mundur secara tidak beraturan. Pada awalnya kita akan dibawa ke hari ke-488 hubungan Tom dengan Summer. Kemudian mundur ke hari ke-1, dan setelah mendapat penjelasan tokoh dari naratornya, cerita kemudian melompat ke hari-290. Begitu seterusnya. Tidak biasa memang, dan mungkin akan sangat membingungkan untuk sebagian orang. Hehe

Ada banyak dialog di dalam film ini yang memberi gue pencerahan. Salah satunya adalah dialog ketika Tom dan temannya menanyai Summer tentang pacar. Gue paling ‘suka’ dengan dialog yang ini. Dialog ini terjadi antara Tom (T), Summer (S), dan teman dekat Tom, Mckenzie (M), di sebuah tempat karaoke. Dialog ini mengingatkan gue dengan apa yang pernah dikatakan oleh seseorang.

(M):Kau punya pacar?

(S): Tidak

(M): Kenapa tidak?

(S): Karena aku tak mau

(M): Ayolah aku tak percaya

(S): Kau tak percaya kalau wanita bisa menikmati hidup bebas dan sendiri?

(M): Apa kau lesbian?

(S): Tidak aku bukan lesbian aku hanya merasa tak nyaman menjadi pacar seseorang. Sebenarnya aku tak nyaman menjadi apapun bagi siapapun

(M): Aku tak tahu apa yang kau bicarakan

(S): Benarkah?

(M): Tidak

(S): Oke biar kuperjelas

(T): Jelaskan padaku

(S): Oke, aku lebih suka sendiri. Adanya hubungan itu akan bikin kacau dan orang-orang akan terluka. Siapa yang inginkan itu? kita masih muda. Kita tinggal di salah satu kota terindah di dunia, sebaiknya kita bersenang-senang selagi bisa dan…melakukan hal serius nanti saja

Berselang setahun dari pembicaraan tentang idealisme wanita itu, Summer menikah. Ya dia menikah. Betapa konyolnya kata-kata yang pernah dia ucapkan ketika itu “Aku lebih suka sendiri” atau “Aku tak ingin jadi apapun bagi siapapun” ho-oh. Betapa mudahnya untuk menjadi tidak konsisten semudah menyakiti perasaan laki-laki.
Dan dialog dibawah ini, adalah dialog yang punya makna tersendiri buat gue. Dialog ini ada di hari ke 488. Dialog antara Tom yang perlahan-lahan bangkit dari kehancuran, dan summer yang sudah menikah.

(T): Kau sudah menikah

(S): Ya ini gila kan?

(T): Kau harusnya bilang padaku saat..

(S): Aku tahu

(T): Saat di pesta pernikahan itu, saat kita berdansa

(S): Dia belum melamarku saat itu

(T): Tapi dia sudah jadi pacamu

(S): Ya

(T): Jadi kenapa kau berdansa denganku?

(S): Karena aku ingin

(T): Kau melakukan hal yang kau ingin lakukan, bukan begitu? kau tak pernah ingin menjadi pacar dari siapapun, dan sekarang kau istri dari seseorang, ini juga mengangetkanku. kurasa aku tak akan bisa memahaminya, ini tak masuk akal

(S): Terjadi begitu saja

(T): Benar, tapi itu yang tidak ku mengerti? Apa yang terjadi?

(S): Aku bangun di suatu pagi dan aku tahu,

(T): Tahu apa?

(S): Aku tak pernah yakin denganmu.

Kata-kata Summer itu mengingatkan gue kepada seseorang. Ya ya, kepada seseorang yang tidak konsisten akan ucapannya yang kelihatan Idealis itu. Juga mengingatkan atas penolakan-penolakan yang pernah gue alami karena gue ga meyakinkan hehe. Dan satu pertanyaan yang masih menghantui gue, Mengapa cewek tidak pernah memberi alasan yang jelas ketika dia mengatakan tidak suka atau tidak yakin dengan seseorang?

Kritikus Film, Rogert Eber memberikan rating 5 dari 5 untuk Film ini. Gue sendiri bingung mengapa. Film ini bukan fim yang terlalu bagus. Mungkin karena gue bukan kritikus film jadinya gue ga tahu hal-hal apa saja yang harus diperhatikan ketika memberi rating untuk film. Gue sendiri suka film ini karena ketika melihat ekspresi wajah Tom Hansen, ketika diambang kehancuran, ketika mencoba bangkit, gue teringat, yah itulah yang gue rasakan. Itulah perasaan gue. Muka gue sesedih itu. Gue bisa merasakannya. Tom, gue bersamamu.

Tom, mungkin segelas Baygon bisa menyelesaikan masalahmu
Oh ya, ada lagi yang gue suka dari film ini, yaitu endingnya. Alasannya,  Pertama karena di endingnya nongol aktris cantik bernama Minka Kelly :). Yang kedua, karena bagaimana kebangkitan Tom dari bayang-bayang si 'Robot' summer, benar-benar menginspirasi gue untuk melakukan hal yang sama. 


Oke, liburan sebentar lagi tiba. Udah saatnya berburu film lagi. Huhuhu. see you. :)