Showing posts with label Absurd. Show all posts
Showing posts with label Absurd. Show all posts

Monday, March 21, 2011

Freaky club

Pernahkah kalian mendengarkan cerita ini? Anak laki-laki bangun pagi setiap harinya, kemudian pergi kuliah setelah sebelumnya terjebak macet rata-rata lima kali dalam seminggu, dan saat kuliah berlangsung sering kehilangan fokus hanya dalam waktu lima menit, begitu terus hingga kuliah usai, pulang ke rumah, melakukan kegiatan rutin seperti makan, shalat, (sedikit) belajar, dan tidur untuk mengulangi kegiatan yang sama keesokan harinya.
Apa yang kalian pikirkan setelah membaca cerita itu? Membosankan seperti berada di neraka. Yeah, itulah yang seringnya gue (atau mungkin sebagian dari kalian) rasakan di akhir-akhir masa remaja ini. Walau gue, tentu saja sudah melakukan banyak hal untuk mencurangi pola hidup itu, seperti mencoba rute dan waktu berangkat yang berbeda untuk menghindari macet atau lampu merah sialan, membaca blog-blog Budi Raharjo, Bena Kribo, atau Diana Rikasari via mobile ketika otak gue sudah tidak lagi bisa mencerna apa yang dikatakan dosen, atau bermalam di rumah teman untuk mendapatkan citarasa sarapan yang berbeda dari di rumah sendiri tiap minggunya (LOL :D). Kenyataannya itu belumlah cukup. Hidup gue tetap tidak produktif <--- Ini jika tidak mau dibilang membosankan. 

“Mungkin sebaiknya kamu mencoba sesuatu hal baru di luar kegiatan yang biasanya kamu lakukan jik.” Saran teman gue bernama Dhita. Untuk menghindari salah persepsi, gue beritahu dulu, pembicaraan kali ini tidak terjadi dalam sesi curhat. Kata curhat rasanya sangat tidak matching dengan kata cowok, jadi sebisa mungkin gue akan hindari kata itu. Selanjutnya, gue akan sebut ini konsultasi. Dan ini terjadi bukan karena gue mengeluh kesana kemari ke teman-teman gue, melainkan karena gadis yang satu ini menangkap ada sesuatu yang salah ketika gue keliling di DVD rental dengan tampang malas. Kami sudah berteman sejak lama, dan ketika deretan film-film pun tidak mampu mengusir raut bosan dari kulit wajah gue, itu berarti gue sedang berada di taraf bosan yang begitu tinggi. Dia tahu gue butuh sebuah sesi konsultasi. Tindakannya ini membuat gue sering berpikir, bahwa seperti inilah kriteria sahabat yang bisa diandalkan. 

“Apa dhit?”  Tanya gue. Orang bosan sering jadi tuli mendadak.
“Enggak tau deh kenapa, rasanya pengen banget menampar wajah kamu jik. Wajah itu sepertinya menjadi media penularan rasa bosan ke orang lain.” Katanya sambil cekikikan.

“Maaf?” “Haha, dari wajah kamu itu aja, aku udah tahu kalau kamu sebenarnya sedang mengalami bosan tingkat tinggi. Kenapa enggak ngelakuin sesuatu yang sama sekali baru supaya enggak bosan lagi jik?”

“Ceritakan ke aku kegiatan yang baru itu seperti apa?” Dhita menarik nafas panjang. Dia mestinya bersyukur karena diberi sesuatu yang sering tidak dimiliki orang lain, Kemampuan bersabar untuk menghadapi cowok bawel dan annoying.

“Dengarkan ini.” Katanya. “Sesuatu yang baru itu. Contohnya, seperti masuk menjadi anggota sebuah klub. Ini aku ambil contoh yang gampang lo.”

“Klub? Seperti klub pencinta binatang gitu? Atau sejenisnya.”

“Ya, seperti itu. Tapi aku enggak menyarankan masuk ke klub itu lo. Maksud aku, masuklah ke sebuah klub dari kegiatan yang kamu suka. Kan enak tu bertemu orang-orang yang punya kegemaran yang sama dengan kita? Aku yakin deh itu bisa jadi terapi dini untuk hidup Pojik yang ‘membosankan’.”

“Kedengarannya menarik.” Kata gue ogah-ogahan. “Beritahu aku dimana ada klub pecinta barang gratis.”

“Aku enggak tahu banyak tentang klub-klub yang ada di Medan ini, tapi kemaren pas buka-buka internet, aku nemu klub yang kayaknya cocok buat kamu jik, klub buat para maniak nonton. Namanya, Crazy Movie Club.”

“Itu klub apa? klub dimana kita bisa mendapatkan film gratis tiap minggunya?” “Ya kagak lah, Cuma klub yang memfasilitasi para penggila film di kota ini. Kadang-kadang mengadakan acara nonton bareng juga. Yang aku baca sih begetoh.”

“Ada syarat khusus kagak untuk masuk klub itu? selain membayar biaya keanggotaan tentunya.”

“Syaratnya WNI, dan tidak bawel.”

“Maksud aku syarat seperti misalnya, menyumbang 10 film untuk menambah koleksi database movie klub itu misalnya.”

“Oh iya, Pernah menonton film dari 10 negara berbeda? Itu salah satu syaratnya. Klub ini sepertinya cuma menampung penggila film sejati. Membernya juga enggak banyak-banyak amat.”

“Nggg, Aku ingat-ingat dulu deh ya, Pan’s labyrinth dari spanyol, 3 Idiots dari india, Crazy Little Things Called Love dari Thailand, Cold prey dari Norwegia, Children of Heaven dari Pakistan, Taiyou no Uta dari jepang, Tale of Two Sisters dari korea, film film boboho dari china, dream home hongkong, ditambah film2 indonesia dan barat, wah udah lebih dari sepuluh Negara lo. Baru sadar. Cuma itu dhit syaratnya?”

“Haha, dasar freak. Kagak! Kagak! Kagak ada syarat seperti itu. Aku main-main kok. Wek Itu cuma klub untuk orang-orang yang mengaku dirinya penggila film aja .”

“Semacam klub hobi biasa ya? Yah, mendengarnya aja aku udah ngerasa bosan.”

“Kalau memang pengen bosennya benar-benar hilang, masuk Suicide club aja deh.” Gerung Dhita.

Hening sejenak.

“What?”

“Iya, Suicide club. Klub bunuh diri. Kayak yang di Jepang itu lo. Itu kan klub untuk orang-orang yang bosan. Bosan hidup. Cocok deh masuk situ.”

“Kok rasanya jadi ngeri sendiri.”

“Ngeri?”

“Iyaaaa!”

“Kalau begitu hiduplah dengan benar pojikku. Jangan deh bersikap seolah dunia ini bakal runtuh hanya gara-gara rasa ‘bosan’ yang sebenarnya bukanlah apa-apa.”

Sekali lagi hening. Kata-katanya benar sekaligus menyudutkan. Gue Cuma bisa diam. Atau kalaupun ada yang bisa gue lakukan sekarang, mungkin pipis di celana.

“Cowok jangan lembek gitu dong.”

Gue tersudut lagi. Hening cukup lama.

“Kata-kata tadi membuka pikiranku dhit.” Akhirnya gue beranikan diri untuk ngomong.

“Maaf tadi keceplosan.” Balasnya sambil pura-pura melihat deretan film horror. Padahal sebenarnya dia paranoid.

“Yah, sedikit menusuk sih, tapi apa yang kamu bilang tadi itu benar-benar mencerahkan lo.”

“Hahaha, bawel, coba buktikan!”

“Buktikan? Gimana…” gue berpikir sejenak. “Oh ini buktinya, lihat, wajahku enggak ngebosenin lagi kan? Enggak menularkan kebosanan lagi kan?”

Yang ada gue cuma pasang tampang konyol.

“Hahaha, yah, paling enggak kamu udah berusaha.” Katanya sambil tertawa.

Gue? Cuma bisa manyun.

“Tau enggak jik, berlama-lama bosan menurut aku, merupakan salah satu bentuk lain dari tindakan tidak mensyukuri hidup yang telah Tuhan berikan ke kita.” Lanjutnya lagi.

Gue yang cuma bisa diam dan manyun, mengingat kata-kata tadi lekat-lekat. Merasa hidup ini membosankan, sama saja artinya tidak mensyukuri anugerah kehidupan. Gue sebenarnya kurang paham juga maksud kata-kata itu apa. Tapi kok rasanya pola pikir gue terbuka setelah mendengarnya. Atau karena yang ngomong cewek? Hahaha.

Semoga kedepannya, lingkaran keseharian ini ----> Pergi kuliah setelah sebelumnya terjebak macet rata-rata lima kali dalam seminggu, dan saat kuliah berlangsung sering kehilangan fokus hanya dalam waktu lima menit, begitu seterusnya dan bla bla bla bisa gue hadapi dengan lebih positif, maksudnya, gue ga akan berpikir bahwa hal-hal diatas itu membosankan. Begitu.
Atau semoga gue menemukan cara agar gue bisa mencurangi lingkaran keseharian itu dengan lebih baik.
Who knows what the hint will bring.


Sunday, February 13, 2011

Badai (yang) Telah Berlalu

Apa masalahnya sudah selesai? Berapa lama stres yang diakibatkannya?

Udah dong…! (suara tawa membahana). Dan untuk stress yang menjengkelkan itu, tiga hari aja rasanya cukup. Tiga hari saja rasanya cukup untuk membuat gue lebih banyak berdiam diri seperti orang bego. Cukup untuk membuat gue memproduksi asam berlebih dari raut wajah gue. Sangat cukup untuk mengurangi jumlah orang-orang galau di twitter (cowok menggalau di twitter is so gay).

Stress itu membuat kita jelek luar dan dalam, dan tentu saja gue ga mau menambah daftar kejelekan yang gue punya dengan memelihara stress lebih lama. (emangnya tuyul dipelihara)

Apa dan siapa saja yang membantu menyelesaikan masalah dan stres itu?

Waktu, dan tiga orang baik yang memberi dukungan moral. Mungkin tidak ada niat langsung dari mereka untuk membantu, tapi gue hargai itu. Mencari kesibukan? Ya itu kadang –kadang mampu mengalihkan pikiran gue sejenak dari stress, tapi “mencari kesibukan” juga mempunyai efek samping berupa kelelahan, dan kelelahan punya kaitan yang erat dengan rasa bosan, perasaan tidak enak, atau dampak terburuk : menurunnya daya tahan tubuh. Atas dasar itu gue menambahkan satu hal lagi yang membantu meredakan stress psikologis yaitu Nutrisi. Vitamin B kompleks dan Vitamin C dalam multivitamin serta protein dan kalsium dari susu yang gue konsumsi bukan hanya membantu gue menghindari penyakit yang rentan menyerang di saat stress, juga menjernihkan pikiran gue dari segala prasangka, kecewa, dan perasaan dikhianati.

Apa pelajaran yang dapat kamu petik dari masalahmu itu?

Pepatah lama tetap berlaku. Ada hikmah di balik setiap masalah. Pesan moral yang dapat gue petik:

-Jangan terlalu mengharapkan bantuan orang lain untuk menyelesaikan masalahmu sendiri

-Dan jika ada yang membantu, hargailah ia dengan memperlakukannya sebaik mungkin.

Khusus untuk tiga orang yang menanyakan keadaan gue di saat sulit kemarin itu, Insya Allah, ada kado di hari ulang tahun kalian. ^_^ Perbuatan baik selalu diikuti balasan yang yang baik, benar begitu kan?

Thursday, February 10, 2011

How to Manipulate your Smile

Hai. Sekarang giliranku kan?

Namaku Aaron. Ya, Dia memanggilku begitu. Kalian pasti tidak tahu, akulah yang paling bertanggung jawab atas semua senyum palsu yang sering dia munculkan.

Yeah, senyum palsu. Aku benci istilah itu. Bukan senyum palsu namanya jika seseorang berusaha tetap tersenyum ketika menghadapi masalah yang pelik. Bukan senyum palsu namanya jika seseorang tidak ingin merusak pandangan orang lain dengan tampang murungnya.

Senyum palsu itu tidak ada. Yang ada, hanyalah tetap tersenyum, apapun keadaanya.

Sekarang nilai sendiri, apakah senyum anak ini adalah senyum palsu.

Momen ini dimulai kamis kemarin, ketika temannya yang bernama Lia bertanya seperti ini :

“Zi, are you Ok?”

Jika kamu sebenarnya dalam keadaan yang tidak terlalu baik, menjawab pertanyaan seperti itu bukanlah perkara gampang. Kamu mungkin saja butuh berdialog dengan batinmu sendiri seperti yang anak ini lakukan.

Dia, Fauzi (F): Aku harus jawab apa?

Aku, Aaron (A): Katakan baik-baik saja. Kamu, baik-baik saja.

F: Oh ayolah, sejujurnya aku ingin dia tahu, aku ingin mereka tahu.

A: Untuk apa? Mereka tidak seharusnya tahu. Mereka tidak selalu harus jadi tempatmu membuang sampah. Mereka teman baikmu bukan?

F: Aku tidak bicara tentang tempat sampah

A: Apa yang kamu ceritakan itu sampah. Sampah batin. 

F: Aku tetap tidak akan berbohong. Kepada diriku sendiri atau orang lain. Aku kacau.

A: Berhentilah mencari perhatian, teman. Berhentilah menjadi manja. Itu buruk sekali.

F: Jadi berbohong tidak jauh lebih buruk?

A:Entahlah, tapi, oke, kamu tidak perlu berbohong. Tetapi kamu juga tidak perlu memancing rasa prihatin orang lain dengan tampang lesu seperti itu. Boleh saja mengakui kalau kamu hancur, kacau, rusak, tetapi tidak dengan wajah seperti itu.

F: Memaksakan senyum lagi? Oh NO.

A: Memaksakan keadaan agar lebih baik, itu tepatnya.

F: It’s useless.

A: Jadi kamu mau apa? Mengatakan bahwa kamu tidak sehat dengan tampang murung? Dengan menangis? Apa kamu gay?

F: I’m not Crying. I’m not Gay.

A: Kalau begitu, jadilah laki-laki.

F: Memaksakan senyum itu membuat wajahku terlihat aneh. Mestinya kamu tahu.

A: Bagaimana ketika kamu memelas? Wajahmu bahkan jauh lebih aneh dari definisi aneh itu sendiri. 
F: Jadi aku harus apa?

A; Hanya tersenyum, oke?

F: Aku bahkan sudah lupa bagaimana caranya.

A: Omong kosong apa itu? 

F: Yeah, nyatanya memang begitu.

A: Baik, kamu mungkin lupa bagaimana caranya tersenyum, itu cengeng, tapi jangan jadi lebih cengeng lagi dengan mengatakan kalau kamu lupa bagaimana caranya mengangkat mulut.

F: Mengangkat mulut?

A: Just do it!

Inilah yang dia lakukan ketika temannya yang bernama Lia bertanya seperti ini :

“Zi, are you Ok?”

Dia mengangkat mulutnya, dan mengatakan:

“No, heh.”

Temannya itu tersenyum yang tidak bisa diartikan.

“Ya, Kelihatan memang.” Katanya.

Dia mengangkat mulut lagi. Di keadaan sulit dan penuh masalah, mengangkat mulut itu berarti tersenyum. Kemudian dia berlalu meninggalkan temannya itu.

F: Kamu lihat itu? Kegiatan mengangkat mulut ini bukannya menyembunyikan betapa murungnya aku, malah membuat dia jadi tahu kalau aku sedang mengalami sesuatu.

A: Menyembunyikan apa? Sejak awal aku tidak menyuruhmu berusaha tersenyum untuk menyembunyikan sesuatu. Baik itu kemurungan, kesedihan, atau apapun.

F: Kalau begitu, untuk apa mengangkat mul…maksudku, untuk apa senyum tadi itu?

A: Camkan ini, Senyum itu bukan untuk menunjukan kepada orang-orang bahwa kamu baik-baik saja, senyum itu, sesungguhnya hanya untuk menujukan, bahwa sekalipun kamu sedang sedih, sekalipun kamu sedang dalam kekacauan, kamu tetap berusaha untuk tersenyum.

Apakah anak itu tersenyum palsu? I dunno. Tapi kelihatannya giliranku hampir habis.

Ini untuk kata-kata penutup.

Namaku Aaron. Entahlah, dia memanggilku begitu. Aku adalah dalang dari semua sikap sok kuat dan sok tegarnya. Terlihat menjengkelkan bukan? Tapi percayalah, dengan mencoba menjadi kuat, kamu akan kuat. Dengan mencoba menjadi orang tegar, kamu akan tegar. Dan dengan mencoba tersenyum di setiap masalah yang kamu hadapi, kamu akan melihat harapan.

Trust me.


11 Februari 2011

Friday, February 4, 2011

My Paradoks

Kebiasaanku mengamati hal-hal kecil di sekitar mempertemukanku dengan orang-orang yang mempunyai kebiasaan unik. Salah satunya adalah Dia. Dari luar, Dia sama saja seperti remaja yang lain. Suka musik, gemar nonton film, dan punya ketertarikan besar terhadap lawan jenis. Kebiasaanku mengamati hal-hal kecil di sekitar, membuatku tahu kalau Dia itu sedikit berbeda. Bukan perbedaan penting, tapi bagiku cukup unik.

Pernah suatu hari ketika dia terserang demam film. Setiap harinya dia menonton lebih dari tiga film. Berburu dvd film malah menjadi rutinitas yang sejajar dengan makan ataupun tidur. Dia menjadi kacau. Paling tidak, kekacauan itu bisa dilihat dari caranya menghabiskan waktu. Saat penyakit kecanduan filmnya hampir tidak tertolong lagi, salah seorang cewek yang aku tahu adalah temannya, mengirimi dia sebuah tweet nasehat sederhana di twitter seperti ini :

“selamat pagi @dia no more movies for today, please!”

Mungkin tweet itu sebagai respon terhadap hastag #nowwatching dari dia yang sering wara-wiri tiap malam. 

Setelahnya, apa yang terjadi? Dia perlahan berubah. Sejauh yang aku amati, baik dari topik pembicaraannya yang tidak melulu tentang film lagi, hingga hashtag #nw nya yang hanya muncul di malam-malam libur.

Apakah dia menganggap serius pesan temannya di twitter itu atau dia hanya kehabisan film untuk ditonton? Masih terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan.

Aku tetap pada kebiasaanku mengamati hal-hal kecil. Tidak terlalu penting memang tapi kebiasaan tidak harus selalu penting bukan? Aku juga punya kebiasaan tidak penting lain seperti menggumam “Ckckck” kepada teman-temanku yang sering terlambat masuk kuliah. Kebetulan, hari ini dia juga terlambat. Berdiri di depan pintu dengan wajah memelas berharap diizinkan masuk oleh dosen. Dan jika izin itu sudah didapat, ia kemudian masuk tergopoh-gopoh sambil melihat sekililing, mencari bangku yang kosong. Aku baru saja bersiap untuk mengguman “ckckck” ketika dia melewati bangku tempatku duduk sebelum aku mendengar salah satu temannya mengucapkan sesuatu, dengan wajah yang sangat tidak mengenakan.

Sepintas aku melihat dia melempar senyum. Aku melihat senyum itu sebagai senyum penuh berbagai kemungkinan.Bisa saja dia tersenyum karena merasa senang masih ada yang peduli terhadapnya dengan mempertanyakan keterlambatannya itu, atau tersenyum miris, senyum yang dipasang untuk menghindari rasa malu kepada teman sendiri karena tidak disiplin. Buat orang-orang yang hidupnya terlalu serius, tidak disiplin bisa mempunyai arti yang sama dengan “pecundang”.


Kok telat?” seharusnya itu kalimat pertanyaan biasa. Dua kata lazim yang tidak baku. Tapi lihat efek dari kalimat pertanyaan sederhana itu jika diarahkan ke orang yang tepat. Terhitung semenjak pertanyaan itu dilontarkan, jumlah pria yang mengetok pintu ketika kuliah pagi berlangsung jadi berkurang satu. 

Apakah kalimat yang dilontarkan itu begitu penting? Ataukah orang yang melontarkan pertanyaan itulah yang penting? Who know? Yang jelas, aku kini menyadari bahwa ada seseorang yang mulai berusaha untuk menjadi disiplin hanya gara-gara sebuah kalimat yang mungkin buat sebagian orang, tidak perlu terlalu dipikirkan.
Kejadian itu membuatku menyebutnya dengan julukan, “laki-laki yang punya kebiasaan mengingat nasehat-nasehat kecil.”
Sejujurnya, aku ingin sekali berbicara dengan orang-orang unik seperti dia. Ingin bertanya, apakah hanya sebuah nasehat kecil nan sederhana yang bisa membuatnya mengambil langkah maju. Bagaimana dengan mediator perubahan yang lain, seperti quote-qoute bagus di buku atau film.

“Jadi, apa yang membuatmu mengingat nasihat-nasihat kecil orang dengan sangat baik dan mengaplikasikannya?” tanyaku pada suatu kesempatan di taman kampus. Di depan kami ada beberapa perempuan yang sedang asyik ngobrol. Dari tadi aku melihatnya memandangi salah satu dari mereka.

“Well, sebenarnya, aku tidak mengingat kata-kata, atau mengingat nasehat.” Jawabnya.

Seperti yang telah aku cemaskan sebelumnya, aku terlalu cepat mengambil kesimpulan.

“Aku hanya, entah mengapa, suka menghargai perhatian orang. Baik perhatian manis ataupun skeptis.” Lanjutnya.

“Oh, menghargai perhatian? Hanya perhatian dalam bentuk kata-kata sajakah?” Tanyaku lagi.

“Lihat ini.” Katanya. Bangkit dari tempat duduk dan menghampiri (atau hanya melewati) sekumpulan perempuan yang dari tadi ia pandangi. Aku mengikutinya dari belakang.

Aku melihat dia melewati sekumpulan perempuan itu dan memandangi salah satu dari mereka. Dan dia tersenyum ketika perempuan yang ia pandangi dengan tatapan hangat itu melambaikan tangan. Hanya melambaikan tangan.

“Selanjutnya kamu hanya tinggal melihat” katanya.

“Lihat apa?” tanyaku bingung. Melihat berpindah pindah antara dia dan perempuan itu.

“Melihat bagaimana senyum ini bertahan sepanjang hari hanya karena lambaian tangan dari perempuan yang matanya minus 1,5 itu.”

Kata-katanya membingungkan. 

Yah, kebiasaanku mengamati hal-hal kecil disekitar tidak hanya mempertemukanku dengan banyak orang yang mempunyai kebiasaan unik, tetapi juga membuatku sadar, ada banyak orang yang kelihatannya baik-baik saja, ternyata justru sangat membutuhkan perhatian. 
Dan menunjukan kebutuhannya akan perhatian dengan menghargai setiap perhatian kecil yang diberikan kepadanya.


Tuesday, October 19, 2010

Five Received Calls

Aku baru saja membuka halaman pertama "Read, laugh, and win" nya Jack Foster ketika ponselku berbunyi. Orang yang namanya tertera di layar ponsel itu adalah seorang remaja laki-laki aneh yang hobi berbicara tentang apa saja. Kuliah di fakultas kedokteran gigi. Aku menjawab panggilannya dengan ogah-ogahan, ada apa lagi kali ini.
Dia sering menelepon ketika dia sedang mengalami sesuatu. Ketika berbicara, mulutnya seperti senapan angin otomatis.

“Halo! Eh eh lu ada gigi yang berlubang? Gue butuh pasien ni, pasien buat foto rontgen. Iya, foto rontgen intra oral. Enggak, enggak dikerjain macem-macem kok. Lu ntar Cuma duduk, terus di foto. Tapi syaratnya ya itu, gigi lu mesti berlubang. Hah? Beneran? Yakin ga ada gigi lu yang berlubang? Gigi geraham tiga lu udah tumbuh belum? Udah ya? normal ga tumbuhnya? Ah, pusing nih aku. Bantuan nyari dong. Masih sebulan lagi sih, tapi tetep mesti harus nyari dari sekarang. Ntar kabarin ya kalo udah dapet. Oke, tengkyuu.”

Dia mahasiswa kedokteran gigi semester tiga, saat ini sedang sibuk mencari pasien untuk praktikum foto rontgen intra oralnya. 
Tiga minggu kemudian, dia menelpon lagi.

“Huaa, tegang ni, bentar lagi bakal berhadapan dengan pasien untuk kali pertama. Udah dapat pasien dong gue. Temen gue. Iya, emang sih junior, tapi dianya gue anggep temen. Gue harap sih ntar lancar-lancar aja. Gue sih udah ngejelasin prosedurnya. Yang paling gue takutin ntar dia agak ga nyaman gitu pas memasukan film ke rongga mulutnya. Dan semoga ntar gue ga salah-salah, bisa bahaya ntar kalo gue dimarahi dosen di depan pasien. Malu ah. Huhuhu. Doain ya.”

Dari bobot pembicaraan yang sering diangkatnya, gue jadi tau kalau dia adalah tipe orang yang suka menenangkan diri dengan bercerita kepada orang lain.

Dua hari berlalu, aku masih penasaran dengan beberapa hal, yaitu apakah praktikumnya berhasil, apakah dia bisa menghadapi pasiennya dengan baik, dan bagaimana dia mengatasi itu semua.
Dia menelepon lagi..

“Wuaa, parah ih. Parah emang hari-hari gue belakangan ini. Praktikum gue sih lancar-lancar aja. Pasien gue juga lumayan koperatif, walau agak tegang juga pada awalnya. Niatnya sih gue baikin terus tuh pasien pertama gue. Ga akan gue lupakan dia hahaha. Soal hasil fotonya, bagus sih, bagus banget malah kalo gue lihat, dan bukan hanya fotonya yang bagus, gigi yang gue foto juga bagus ternyata. Padahal pas sebelum foto gue lihat ada karies, kecil sih, Cuma karies superficial. Kata temen-temen sih mungkin kariesnya terlalu kecil sehingga ga Nampak di foto. Yah, tau deh. Dan dengan sangat berat hati, gue harus ngulang lagi. Kesel dah. Mana temen-temen gue udah pada santai dan bisa belajar untuk ujian dengan tenang, eh gue harus nyari pasien lagi. Mana nyari pasien susahnya minta ampun. Pokoknya kali ini harus lebih teliti dalam memilih pasien. Berburu pasien lagi deh. Huaaa.”

Bahkan ketika sedang kesal, dia tetap bawel. Mungkin aku akan menerima telepon lagi darinya hanya dalam hitungan jam.
Dan benar saja, keeseokan harinya dia melakukan panggilan lagi.

“ Hai, hai, coba tebak pasien gue siapa? Coba tebak. Gue ga dapet pasien, dan gue terpaksa bawa nyokap. Hahaha, miris nih. Apa? Kasian? Belum. Cerita gue belum selesai ih. Terus ceritanya tadi kan gue bawa nyokap buat foto, terus nunggu giliran deh. Lama juga nunggu karena gue kan ngulang. Ada juga beberapa teman gue yang ngulang dan itu membuat gue sedikit lega. Tapi nunggunya kelamaan, lebih dari tiga jam kayaknya, dan tau ga sih, udah lama nunggu, tiba-tiba aja, pas tengah hari, dosen jaganya mau pergi, dan jadwal ngulang kami harus diundur jadi besok. Huaa, mana nyokap gue kesel dan ngomel-ngomel lagi. Temen gue sih ngajaknya besok datang lebih awal pagi-pagi, tapi gue punya masalah dengan yang namanya bangun cepet. Gue minta dia supaya ngesms gue subuh-subuh. Gue juga ga yakin sih gue bakalan bisa bangun ga. Huhuhu, gue ga mau berharap banyak ah. Hadapi aja. Besok, ih deg-degan lagi.”

Mendengarkan ceritanya, bener juga kata orang-orang, kuliah di kedokteran itu ga gampang.
Empat telepon masuknya, selalu bercerita tentang masalah. lama-lama aku pusing. Mungkin aku harus membantunya. Mungkin itu yang dia cari.

Esok harinya, aku sedang meluangkan waktu sejenak untuk memikirkan kata-kata penghibur. Ketika ada panggilan masuk, sudah hampir dapat dipastikan itu dia.

“Ehmmm, coba denger suara gue sekarang deh. Bisa ga lu nerka perasaan gue sekarang. Sedih? Nelangsa? Bukan gue banget dong itu. Hahaha, Gue lega banget. Yap bener, akhirnya semuanya selesai. Walaupun hasil fotonya ga terlalu bagus, yang penting udah diperiksa ma dosen dan di paraf. Akhirnya saluran pernafasan gue lancar lagi. Tapi, tapi, minggu depan bakalan ada ujian praktikum lagi. Haha, tau aja lo, iya gue butuh pasien. Adik-adik lo bisa ga gue bawa? Oh lagi ujian? Iya deh, gue pun cuma bercanda. Susah ih kalo bawa anak-anak. Ngg, gue stress. Lo punya saran buat gue?. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ”

Ttttttt................................................!

Aku mematikan telepon.
Dan aku dan menyimpan kembali kata-kata hiburan yang telah aku siapkan. Kalimat pertamanya tadi mengindikasikan kalau dia mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Aku tidak akan membantu orang seperti itu.
Bantuan, hanya akan membuat dia manja.
Lelaki tidak seharusnya seperti itu.

NB:
Dia : Kepribadian 1
Aku: Kepribadian 2


Tuesday, July 27, 2010

My-Monster-Side


Tanpa sadar mata saya memerah dan saya berusaha mencari cara untuk segera pergi dari “mereka”. Saya benar-benar kecewa. Tapi saya tidak boleh menahan kekecewaan ini. Saya takut ini menjadi bom waktu yang dapat sewaktu-waktu menyebabkan saya stress. Terlebih lagi, saya bosan mengenakan topeng “Aku-pura-pura-baik-baik-saja” ini.
Saya mengirim sms kepada teman saya, Retnuh. Berbagi kepada teman, tentu saja itu cara saya untuk mengontrol “monster” dalam diri saya. Menceritakan kekecewaan saya.kepadanya mungkin bisa membuat saya merasa lebih baik.
“Sakit hati aku.”
Kata itu gue sematkan setelah gue menceritakan kekecewaan gue.
“Sabar aja zi!”
Begitu balasannya. Terus terang gue kurang puas.
“Really really disappointed.”
Gue menambahkan lagi.
“Pasti itu semua ada maknanya.”
Balasnya.
Membisu sejenak. Makna? Ya, baik atau buruk, saya akan menemukan makna itu. Saya sebagai pemuda yang menganut paham ada makna disetiap kejadian percaya itu.
“Iya, itu benar.” Balas saya.
Kekecewaan apa yang saya alami? Tidak etis untuk ditulis disini. Sepanjang tahun 2010 ini ada beberapa kekecewaan yang saya telan. Beberapa kali orang yang saya sukai ternyata menyukai orang lain, teman-teman SMA yang melupakan saya, atau masalah keluarga yang ga oke. Semuanya memang tidak menyenangkan, tapi kekecewaan yang satu ini jauh lebih tidak menyenangkan dari semuanya. Saya tidak ingat kapan mata saya merah terakhir kali hingga tiba hari ini. Tidak dianggap, merasa tidak berguna. Dikucilkan lingkungan sendiri.
Disaat-saat seperti inilah saya merasakan diri saya terbagi-bagi aneh. Tidak terbagi menjadi good side dan bad side seperti biasa. Tetapi menjadi Escaper-side dan Monster-side. Escaper side membisikan kepada saya untuk tidak memikirkan kekecewaan ini. Mengingatkan saya betapa banyaknya kegiatan yang bisa dilakukan untuk melupakan kekecewaan yang saya alami, makan enak, download 3 album all time low, membeli digest book detective conan, dan mengatur quick link.. Dengan kata lain, mengajak saya untuk melepaskan diri dari kekecewaan. Sedangkan Monster side, menginginkan saya untuk berbuat sebaliknya. Menantang kekecewaan saya dengan sudut pandang monster, membalas kekecewaan ini adalah misi utama (tentu saja) Saatnya bersikap barbar terhadap orang-orang. Mendendam, anarkis, emosi berlebihan adalah senandung monster saya.
Buat saya, menjadi monster terlihat lebih menarik. Saya jadi merasa lebih kuat dan beringas. Saya benci dengan topeng “Aku-pura-pura-baik-baik-saja” yang selalu saya kenakan untuk menyamarkan perasaan kecewa.
Sepanjang hari saya didominasi oleh kemonsteran diri. Saya jadi merasa digerogoti. Escaper membawa saya lari ke toko buku. Membaca, siapa tahu bisa melepas cengkraman monster ini.
Di toko buku, apa yang saya lakukan? Saya tidak bersemangat melakukan apa-apa. Yah, ini pasti karena dominansi monster, semua juga tahu, monster yang suka membaca? Apa ada? Saya secara sembarangan mencomot beberapa graphic novel sembarangan, evil over the rainbow. Kata evil dalam judulnya jelas menarik minat monster dalam diri saya. Ceritanya pasti tentang, setan, atau sejenisnya, diatas pelangi, itu kontras, seperti majas, mungkin maksud judulnya adalah orang yang kelihatannya baik/cantik/elok (seperti pelangi yang indah), tetapi punya hati yang busuk (seperti setan). Judul yang menarik minat saya untuk membaca isinya. Tapi percayalah, membaca apapun dengan monster berada didalam dirimu sangat sangat tidak menyenangkan. Bukannya fokus pada bacaan, saya malah teringat dengan kekecewaan saya, amarah saya, perasaan terkucil saya, dan semua itu membuat darah saya menggelegak..
Untungnya saya punya escaper, yang berkali-kali meloloskan saya dari dominansi monster.
Saya fokus pada bacaan saya. Tiga halaman, empat halaman, hingga saya membaca separuh dari graphic novel dan ini untuk kedua kalinya dalam tahun ini, sebuah buku bacaan menyelamatkan paradigma saya. (pertama pada tulisan yang ini)
Di halaman 67, tertulis kalimat penting yang membuat pikiran saya terbuka,

“Kita semua, manusia, tentu saja berhadapan dengan diri kita yang baik dan buruk setiap harinya, dan yang membedakan kita, aku yang selalu merasa bahagia, dan kamu yang tidak puas, hanya pada cara mengendalikan diri. Aku memperbudak sisi diri yang buruk dan membawa sisi diri yang baik sebagai istri batinku, sedangkan kamu, diperbudak oleh sisi buruk dirimu sendiri.”
Saya dapat merasakan impuls-impuls mengalir deras dalam neuron saya. Membentuk sinyal-sinyal listrik dan menggetarkan otak saya.
Benar juga, “Ga dianggap” itu memang menyakitkan, tapi diperbudak oleh emosi, jauh lebih menyakitkan.
Saya sadar lagi, bahwa monster yang menggerogoti saya ini, hanyalah bentuk abstrak dari kekecewaan saya sendiri.
Dan tujuan saya mempublish tulisan ini, adalah untuk mengeluarkan kekecewaan saya, mengeluarkan monster saya
Saya merasa otak saya sedikit lebih lapang sekarang.
Ternyata nge-Blog banyak gunanya juga.






Sunday, May 30, 2010

Aliran Waktu


Aku kembali ke tahun itu, pertengahan tahun 2010, berjalan menyisiri gedung kuliah fakultas kedokteran gigi dan melihat anak laki-laki berambut pendek turun. Dia mengenakan ransel hitam, agak usang, dan kelihatan penuh. Pandangan matanya berpendar, mungkin sedang menghayati lagu yang ia dengarkan, melalui earphone, entah itu punya sendiri atau hanya meminjam, tetapi dia kelihatan sedang sangat menikmati itu.

“Hei!” Panggilku.

Dia menoleh, diam berdiri.Earphone masih ditelinganya. Aku berlari menghampirinya. Lebih tepatnya, mempercepat langkah.

“Ada apa, Pak?” Tanyanya. Salah satu earphone dilepaskannya dari telinga. 

“Tunggu sebentar, kamu mau kemana?” Aku balik bertanya. Keningnya mengerut. Kini mematikan music player di handphonenya. Dia memandangiku curiga.

“Sekarang kan jam makan siang. Mau pergi makan nih. Di kantin.” Jawabnya dengan ekspresi aneh. “bukan di kantin sih, di warung netral, diseberang jalan ini.”

Dia menunjuk jalan diseberang fakultas. Aku memperhatikannya baik-baik, rambut yang tidak disisir rapi, celana jins pudar, dan tali sepatu yang tidak diikat. Agaknya dia sadar diperhatikan terus dari tadi. Ekspresi wajahnya jadi berubah. Semakin menambah aneh raut mukanya, yang cenderung biasa-biasa saja. Aku sedikit terganggu dengan tatapannya itu. 

“Kenapa wajahmu begitu?” Tanyaku. “kayak orang bodoh saja?”

“Hah?” dia mundur menjauhkan diri. Sorot matanya penuh tanda Tanya. Aku sudah memberi kesan pertama yang kurang baik. Tapi aku harus menyelesaikan sesuatu disini. Ada yang harus kulakukan di tahun ini. Penting untuk masa depan. Dunia. Duniaku sendiri. Tapi aku tidak tahan. Benar-benar tidak dapat kutahan emosiku untuk mengomentari rambutnya.

“Rambut ini.” Kataku sambil mengacak-acak rambutnya. Dia sigap mengeyahkan tanganku dari kepalanya. Tatapannya waspada. Bahunya tegang, dan dia pasang kuda-kuda. Aku tahu betul, dia tidak menguasai satu pun ilmu bela diri. Jadi mengapa mesti pasang kuda-kuda seperti itu. Apa dulu aku memang sering berbuat konyol seperti ini? 

“Mestinya rambut itu kamu rapikan sedikit.” Kataku sambil tersenyum. Dia memegang rambutnya dan memandangku dengan tatapan jengkel. 

“Cewek itu suka yang rapi.” Kataku lagi.

“Haa, apaan?” gerungnya. “terlebih lagi, Bapak siapa?”

Rasa hormat sedikit berkurang dari nada suaranya. Aku maklum, tapi identitas tentang siapa diriku harus dirahasiakan. Itu peraturan tertulis dari polisi waktu. Aku dari tadi terus tergoda untuk bicara banyak hal, bicara tentang masa depan, bicara tentang wanita-wanita yang bakal dia temui nantinya. Tapi itu larangan hukum. Ah, bagaimana kalau sedikit saja. Aku mahal-mahal datang kesini. Kebetulan ini tahun 2010, aku ingat dulu sedang berusaha mendekati seseorang. Dengan semangat masa muda aku pun melanggar sedikit hukum waktu.

“Siapa aku? Haha, Ga perlu tahu. Gimana usaha PDKT mu?” Aku berkata seperti itu sambil tertawa jahil. Pasti dia heran mengapa aku bisa tahu tentang hal itu. Ini asyik.

“Haa? Ngomong apa sih?” Wajah bingungnya makin terlihat aneh. “sudah ya Pak, teman-temanku udah nunggu.”

Teman-teman? Aku kembali mengingat beberapa rombongan temanku yang sering makan di warung itu dulu. Siapa saja, aku ingat beberapa, Rezi yang sekarang sudah jadi guru besar di UI, dan.. Fadil. Terakhir kali Fadil kuhubungi, dia sedang liburan di marseille. Dia makin sukses saja. Ridwan, Mike, Putra. Oh ia mereka juga.

“Teman-temanmu itu, salah satunya Rezi kan?

Dia diam.

“Bapak tahu Rezi?” dia bertanya takjub.

“Yaa, sedikit sih.” Jawab gue bokis. “Aku tahu dia itu penggemar white soes and the couples company."

“Wuaa, aku ngerti sekarang. Bapak itu saudaranya Rezi yah?” serunya bersemangat. 

Melihat responnya, tiba-tiba aku jadi rindu dengan luapan semangat seperti ini. Salah satu kebanggaanku dulu adalah semangat persahabatan yang tadi dia tunjukan. Hanya dengan sedikit informasi tentang temannya, dia langsung bisa membuka diri hingga ekspresi jengkelnya tadi menghilang. Itu adalah kebiasaan unik yang sekarang sudah ditelan rutinitas kerja.

“Jawab dulu donk pertanyaan tadi. PDKT kamu gimana? haha.”

“PDKT sama siapa? Ah mana ada.” 

Aku melihat sekeliling, kebetulan tangga gedung berdekatan dengan kantin fakultas. Kemudian aku menunjuk kearah beberapa anak perempuan yang sedang makan. Dia melongo. Bergantian memandangku dan kumpulan anak perempuan itu.

“Liliput pertama!” kataku. Tersenyum puas. Menikmati setiap raut heran yang keluar dari wajahnya.

“Hiyaaa, Bapak kok tahu semua sih?” Tanyanya. Sikapnya sekarang seperti sikap orang yang sedang berhadapan dengan peramal.

Aku bisa saja menjawab kalau aku dari masa depan, menaiki mesin waktu, dan bilang kalau aku tahu semua yang akan terjadi seterusnya. Aku ingin membuat dia penasaran lebih besar lagi. Tapi selain Hukum waktu yang melarang, apa dia akan percaya begitu saja? Butuh waktu untuk menjelaskannya. Menjelaskan tentang masa depan dengan banyak kemajuan yang tak terduga. Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan hal itu. Hukum waktu hanya memberi izin satu jam untuk kembali ke masa lalu, itupun hanya untuk satu kali kesempatan.

“Aku baca blogmu!” kataku kepadanya. Aku rasa itu jawaban yang paling pas. Aku tidak mungkin lupa akan tulisan-tulisan di blog karena sampai sekarang pun aku masih rutin menulis disitu.

“Waw, beneran?” kali ini luapan bahagia memancar dari suaranya. Yah, blogger selalu bahagia tiap kali ada orang yang membaca blognya. “Terima kasih ya.” Ucapnya.

“Terus gimana?” Tanyaku lagi. Aku harap dia bisa terbuka kepada dirinya sendiri. Yang sekarang berada dihadapannya.

“Apanya?”

“Jangan pura-pura bodoh.” Kataku pelan. Kemudian menggiring pandangannya kearah beberapa anak perempuan itu.

“Oh..” Katanya.

“Tahu kan?” Kini kami sama-sama memandang kearah anak-anak perempuan itu. Terpusat pada satu orang. Liliput pertama. “Jangan kayak pengecut. Dekati sana. Sebelum keduluan.”

Dia diam. Wajahnya ragu. Makin kelihatan abstrak.

“Aku gak yakin dia bakalan suka.” Katanya lirih
.
“Coba saja. Nanti menyesal seumur hidup lo.” Kataku sambil menepuk pelan pundaknya. “Apapun hasilnya, yang penting kamu ga menyesal gara-gara telah bertingkah seperti pengecut.”

“Ada ide?” Tanyanya kepadaku. “Aku kehabisan akal untuk mendekatinya.”

Sekarang, malah aku yang tidak bisa berkata-kata. Melihat diri sendiri yang diliputi keputusasaan seperti ini, hhh, benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. 

“Kamu jangan menyerah!” nasehatku. Cuma itu yang bisa aku katakan.

Dia hanya melenguh pelan. Memasang earphone kembali ketelinganya. “Tenang saja!” katanya datar. “Aku tahu bagaimana cara keluar dari kegalauan.”

Mendengarkan musik. Yah, dulu itu senjataku untuk bertahan dari suasana hati yang buruk. Tentu saja lagu-lagu bertempo tinggi yang melarang pikiran untuk mengeluh terlalu lama.

“Kamu denger apa?” Tanyaku. Sedikit penasaran, kira-kira pada tahun ini aku dulu suka lagu apa ya.

“Younha.” Jawabnya. “tau nggak. ‘Ima Ga daisuki’ Judulnya. Semangat masa muda”

Kemudian aku mendengar dia menyanyikan lagi itu. Fals.
“Let's do whatever we can do only now, Uoo since the tomorrow is a result of what happens today! Uoo Really love it now, Hiiyaa.”

Aku senyum tertahan. Itulah mengapa aku ingin kembali kemasa ini. Ingin melihat semangat yang telah hilang ditelan usia. Ingin melihat bagaimana dulu aku mengatasi semua masalah dengan cara-cara yang kreatif.
Kemudian dia pun asyik terbuai dengan lagu yang didengarnya. Tidak lagi memperhatikan keberadaanku.

“Bertahanlah!” Ucapku berat. Entah dia dengar atau tidak. “Mulai dari sini, banyak hal-hal besar yang akan terjadi.” 

Aku kemudian beranjak pergi meninggalkannya.Sadar akan satu hal. Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mengubah apa yang telah kita lalui. Kesalahan yang kita lakukan, ataupun waktu yang kita buang. Bahkan dengan mesin waktu sekalipun.
Aku kembali menaiki mesin waktu. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Dan aku tidak ingin di tahun-tahun kedepannya ada hal yang kusesali, lagi.
. . . . .

*Keterangan.

Aku : Fauzi di 26 Mei 2023 menggunakan mesin waktu.

Dia : Fauzi di 26 Mei 2010

Friday, April 2, 2010

Bertanduk Tiga : A tales of 6th Blok

Halo, nama gue ifrit, dan gue adalah setan gaul sekali. Masi ingat kan ma gue? Kalo masih lupa, coba baca post ini. Seperti yang kalian tahu, hobi gue adalah menjerumuskan manusia menuju keterpurukan hidup. Dan manusia korban gue kali ini adalah seorang anak laki-laki bernama Fauzi, ga rapi, dan mempunyai bakat memproduksi saliva berlebih.
Di bulan Februari (blok 5), gue udah berhasil sedikit menjerumuskan dia melalui seabrek game-game Pc sehingga dia sangat sedikit belajar. Dan di bulan maret ini, gue malah lebih sukses lagi. Gue berhasil menjadikan dia manusia bertanduk tiga. Melebihi tanduk yang gue punya. (dua tanduk, tapi pendek :P hehe). Sebenarnya indikator keberhasilan setan dalam menggoda manusia dapat ditentukan melalui jumlah tanduk transparan yng tumbuh di kepala. Berikut keterangan untuk masing-masing tanduk.
Tanduk satu: Malas. Malas bangun pagi, malas ngerjain tugas, malas beribadah, malas ngeliat acara gosip.
Tanduk dua: Suka membuang-buang waktu untuk hal yang sebenarnya ga penting, seperti ngobrol berlebihan, nonton acara dangdut hingga larut malam, chatting malam-malam.
Tanduk tiga: Melakukan hal yang merugikan diri sendiri seperti membelanjakan uang makan siang untuk beli game, membeli barang yang pada akhirnya ga digunakan, begadang untuk sesuatu yang ga bermanfaat, menggosip, ngomongin dosen, makan beling, makan jengkol de el el banyak lagi.

Karena gue orangnya sombong (bangga) maka gue akan melampirkan catatan rekor tindakan gue dalam menjerumuskan fauzi hingga menjadi zombie bertanduk tiga.
7 Maret: Waktu di disc tara, gue merayu fauzi buat beli DVD forest gump. Dan filnya sekarang juga ga ditonton sampe habis.
10 Maret: Waktu Fauzi sedang browsing mencari referensi untuk diskusi pemicu, gue menggoda dia untuk main crazykart hingga lupa diri, tidur jam 3 malam.Paginya masuk angin hingga mirip ayam sakit.
12 maret: Jam tujuh malam, ketika Fauzi membaca halaman pertama buku patologi anatomi yang dipinjamnya dari perpustakaan, gue menggodanya untuk rileks sejanak dengan memutar music player. Keterusan hingga jam dua belas dan belajarnya pun batal.
14 Maret; Gue merayu dia untuk terus tidur padahal laporan praktikum mikrobiologi belon ada yang siap, sepatu belon dicuci, kamar mirip sarang trenggiling, baju berserakan disana-sini, dan gigi belon digosok.
19 Maret: Ketika dia pulang agak malam dan kecapekan, gue merayunya untuk menunda shalat Isa nya dan mempengaruhinya untuk segera tidur. Dan dia pun ga jadi sha;at isa karena bangun kesiangan.
21 Maret: Ketika dia teringat ada temen SMA nya ulang tahun, gue lagi-lagi merayunya untuk menunda memberi ucapan selamat. Dan dia pun lupa.
24 Maret: Merayu dia untuk menghabiska uang (yang padahal niatnya digunakan untuk membeli hadiah untuk ulang tahun teman) membeli dua novel mahal. Dan novel-novel itu dibaca ga lebih dari setengah.
26 Maret: Beberapa hari menjelang ujian, dan gue sebisa mungkin merusak ingatan dia tentang hal itu. Gue berhasil. Buktinya dia masih saja asyik main game.
30 Maret: Ketika dia berniat begadang belajar untuk ujian besok, gue menyuruh dia untuk menonton liga champion. Dia pun lupa ada ujian. Dan baru teringat ketika pertandingan habis, waktu tetap berjalan, dan pagi pun tiba.

Gue belon tahu apa rencana dia untuk menghadapi terror gue di blok tujuh yang akan datang ini, tetapi apapun itu, gue akan terus berusaha membuat tanduknya bertambah sehingga dia selamanya akan terjerumus ke lubang hitam.
Hahahaha (ketawa setan)

Tuesday, January 19, 2010

Nama gue Ifrit, dan gue adalah setan gaul

Salam jahat temen-temen semua.Huga muga.
Maaf karena kali ini yang nulis notes bukan si Fauzi.Nama gue Ifrit, dan gue adalah setan gaul yang ditugaskan untuk menggoda Fauzi.Gue sesekali pengen nulis karena udah bosen dengan kegiatan gue sehari-hari yaitu menggoda manusia upil itu untuk bertingkah diluar nalar manusia.Jadi ketika dia lagi ketoilet menunaikan tugas suci, gue umpetin celananya.Sekarang dia lagi kebingungan mencari celananya dimana.Dia mungkin berpikir celananya disembunyiin tante-tante.Selagi dia sibuk mencari , gue masuk kekamar, nyalain komputer dia, dan mulai nulis.

Melalui notes ini, gue hanya pengen meminta kepada kalian semua, wahai manusia-manusia.Gue ga akan meminta kalian untuk berbuat kejahatan, karena hal itu udah dilakukan oleh temen-temen gue yang bersemayam didalam tubuh kalian.
Gue Cuma mau minta tolong aja, titipin salam gue ma hantu suster keramas.Gue nge-fans banget sama dia.Gue pengen banget ketemu dia.Gue udah berusaha mati-matian ngegoda fauzi buat nonton filmnya, tapi gue ga berhasil.Atas dasar itulah gue pengen minta bantuan kalian semua.Dan kalian tau ga kalo suster keramas ma gue itu sodaraan.Semua makhluk gaib, baik itu jin, setan, hantu, tuyul, nenek sihir, mak lampir, teletubies itu bersaudara.Ingat itu.

Oh ia Ini foto gue,
Halo cewek-cewek cantik

Sebagai seorang setan, gue cukup jelek bukan.Huahua(bangga).Berbeda dari manusia, semakin jelek setan, maka semakin ganteng dia.Ngerti kan maksud gue.Ngerti dong.Secara berondong.Bukan beronglah.Huahua.Eh, kelihatannya si Fauzi upil itu udah nemuin celananya dimana.Gawat, dia berjalan menuju kemari.Oke, gue off dulu ya.Jangan lupa untuk selalu berbuat kejahatan agar kami ntar punya banyak temen neraka.

Kapan-kapan pasti gue umpetin lagi celana si Fauzi biar gue bisa ceting ma kalian semua.
Hahaha.Tunggu gue.

Friday, January 8, 2010

Ketika gue, Malaikat, dan setan nonton kualifikasi piala Asia

Sore itu, gue lagi semangat-semangatnya nonton pertandingan kualifikasi piala Asia antara Indonesia versus Oman.Gue udah menunggu momen-momen berteriak salto jungkir balik diruang nonton ketika bambang pamungkas ataupun boas salossa nyetak gol.Yeah, gue sungguh-sungguh merindukan ini.Semangat nasionalisme gue berkobar-kobar.Hmm, patriotisme memang keren.Disebelah kanan dan kiri gue ada malaikat dan setan seperti biasanya.Selalu menempel kemanapun gue pergi.
Gue menatap layar kaca dengan sangat khidmat ketika babak pertama dimulai.Nafas gue tak beraturan.Gue tegang.Pertandingan kali ini adalah penentu.Indonesia harus menang.Indonesia pasti menang.Begitu pikir gue dalam hati.Akan tetapi, setelah lima menit berjalan, gue pun mulai mengumpat-umpat.Gimana enggak, maen Indonesia jelek sekali teman-teman sekalian.Jauh lebik jelek dari setan disebelah gue.Nahan bola aja susahnya minta ampun.Perlu dikasi lem mas kakinya.Gue pun marah-marah didepan tivi.
“ah, gimana sih, payah..uh, isnan ngapain lagi tu, pelanggaran pula..hah? apa? Tendangan bebas?”
Perasaan gue ga enak.Tendangan bebas dimana pemain Oman posturnya tinggi-tinggi, sama aja mimpi buruk.Peluit pun berbunyi, pemain Oman menendang bola, secepat kilat, dan GOL…..GOL? hah? GOL? Masya allah..
Gue seperti ditimpuk durian.

Setan: Jyah..Jyahahhaha…indonesia..Cuma jago korup doank nih..huhuhu

Malaikat: hei..hei..masih babak pertama, indonesia masih punya banyak peluang tuk membalikan keadaan.Dasar setan, pikirannya selalu pendek.Uda ga zaman tau…

Tiba-tiba peluit berbunyi.Gue melihat ada protes-protes pemain.Keajaiban terjadi, ternyata golnya dianulir gara-gara bola ditendang sebelum peluit wasit dibunyikan.Yes.Walau tendangan bebasnya diulang, gue jadi lebih tenang toh gue yakin pemain-pemain Indonesia ga akan melakukan kecerobohan yang sama dua kali.
Pemain Oman pun kembali melakukan tendangan bebas untuk yang kedua kalinya.Dan saatnya gue meralat ucapan gue, pemain Indonesia ternyata melakukan kesalahan yang sama dua kali sodara-sodara…dan GOL..GOL….GOL..arghh…GOL…Huhuhu..nangis.
Gue pun geleng-geleng kepala menyaksikan tragedi ini.Mengumpat-umpat.

Setan: itulah Indonesia, tidak pernah belajar dari kesalahan.Seperti para koruptor.

Malaikat: tenang zi…masih kebobolan satu.Tenang.Pertandingan masih panjang.

Gue masih shock, tapi tetap melanjutkan nonton sambil membisikan kata-kata positif kedalam pikiran gue.Slow down fauzi..calm..santai..seperti petai.
Menit demi menit pun berlalu.Mata gue tetap mengikuti arahnya bola.Menanti-nanti peluang yang diciptakan pemain Indonesia, yang ga kunjung juga datang.
Tiba-tiba, Boas pun memberikan secercah harapan bagi gue.Dengan skill individunya, dia berhasil menang duel lawan pemain belakang Oman, kemudian melesakan bola ke gawang Al-habsi.
Apa yang terjadi? Yap….saatnya salto dan berguling-guling kesenangan.GOOOOOOOOOOOLL.Indonesia berhasil menyamakan kedudukan.Ayo kita teriak bareng-bareng.GOOLL.Hahaha.GUe tertawa selebar kuali.

Setan : ah, Gol jelek tuh…ga mutu.

Malaikat: Pemain biasa tentu tidak akan mampu menjadikan peluang sekecil itu menjadi sebuah Gol.Boas memang pemain yang hebat.Benar-benar mutiara hitam.Ckck…bermutu sekali golnya.

Gue setuju.Golnya sangat cantik.Apalagi melihat ekspresi pemain plus pelatih Indonesia yang kegirangan, gue jadi ikut-ikutan senang.Senang terus sampe babak pertama berganti menjadi babak kedua.Gue makin semangat nonton, walau permainan Indonesia tak kunjung membaik setelah terciptanya gol Boas itu.

Setan : Gimana mau menang, nyentuh bola aja jarang,

Malaikat: Haha, setan idiot, kemenangan suatu tim itu tidak ditentukan oleh ball possession tau…

Memang hasil akhir pertandingan tidak ditentukan oleh seberapa tinggi presentase penguasaan bola, tapi kalo Indonesia ngerebut bola aja susah, gimana bisa menang coba.Dan seperti yang gue lihat sekarang, seorang pemain bernama ismael pun dengan gampangnya melewati beberapa pemain belakang Indonesia, dan kemudian menceploskan bola kegawang markus juga dengan mudahnya.
Gol lagi.
Gue tumbang.Upil gue meledak.Gue sempat ngeliat ekspresi pemain Oman setelah mencetak gol itu.Dia menunjuk-nunjuk kepala sambil mengucapkan seseuatu.Gue pun bertanya-tanya dalam hati, apa arti ekspresinya itu? Kenapa dia menunjuk-nunjuk kepalanya?

Setan: dia Cuma pengen bilang, “makanya, otak itu jangan diisi pikiran-pikiran untuk korup sampe maen bola pun susah.”

Gue mengangguk setuju.Mungkin itu.Apalagi gue melihat mimik wajah ismael itu seperti sedikit mengejek.

Malaikat: Bagiku, ekspresi seperti itu lebih condong pernyataan bahwa “kecerdikan lah yang membuatnya mampu menceploskan bola ke gawang Indonesia dengan begitu mudahnya.Dan sekali lagi, ini ga ada hubungannya dengan korup.

Gue Cuma manggut-manggut.Melihat Indonesia terus ditekan dan dibombardir Oman gue bener-bener ga tahan.Gue bawaanya pengen matiin tivi mulu hingga ada suatu kejadian yang benar-benar ga akan gue lupakan.Ada seorang supporter yang mengenakan kaus timnas berlari kelapangan mengejar bola.Lucunya, walau dikejar-kejar polisi, ni supporter sarap masi nekat menggiring bola dan mencoba menceploskan ke gawang Oman.Makin lucunya lagi, si kipper Oman, Al-habsi, eh malah nanggepin ni ulah supporter dengan menggagalkan tendangannya sambil tersenyum geli.
Bener-bener kejadian unik.Hanya saja, dia(supporter bola yang tadi) hanyalah salah satu dari puluhan juta orang yang kecewa berat melihat penampilan Indonesia.Ironis sekali.

Kapan Indonesia menjadi lebih baik? Tanya Galileo.

Gue dan seluruh rakyat Indonesia benar-benar menunggu saat-saat itu.