Showing posts with label Personal. Show all posts
Showing posts with label Personal. Show all posts

Friday, March 25, 2011

This Weekend


My snowy


The Little Comedian (Thailand)


Faster



The Fighter



Life as we know it



Jackass



The Girl Who Leapt Through the Time (Jepang)



Hitch



The Time Travelers wife



The Pursuit of Happyness



The Losers



Van Wilder : The Freshmen of the Year


Harry Potter and the Half Blood Prince





Monday, March 21, 2011

My New 'Movie Collection'

Di bulan ini gue ngapain aja? Kasak kusuk di ujian blok seminggu yang lalu, istirahat berlebihan di rumah karena sakit setelah ujian (anehnya gue ga gemuk-gemuk padahal kerjaan cuma makan melulu), menyesuaikan diri di blok yang baru (blok 13: Mukosa dan periodontal 2), hingga mati-matian berusaha untuk tidak suka sama orang lain, tapi akhirnya suka juga sama…ngggg sama si itu lo. Hahaha. Nanti deh diceritain. <---- Minta digampar.

Nah, Kegiatan-kegiatan absurd yang gue sebutin diatas, secara tidak langsung berpengaruh terhadap geliat gue dalam usaha untuk mengumpulkan banyak film. Akibatnya, di bulan yang sok sibuk ini, gue cuma bisa mengumpukan 15 film. Hasil minta dan pinjem sana-sini, download sendiri untuk film-film langka, dan yang paling menyesakan dada, beli sendiri, khususnya film-film jepang yang rasa-rasanya ga mungkin temen gue punya.
Berikut daftar-daftar film yang baru saja masuk ke hardisk gue. Beberapa diantaranya malah jadi favorit, contohnya Scott Pilgrim vs The World. (Highly Recommended buat yang suka film-film aneh hehehe)

Recently Added

Scott Pilgrim vs The World


Due Date


Band Slam


Terminator Salvation


Phobia (Thailand)


127 Hours


Tron Legacy


The Next Three Days


The Sorcerer’s Apprentice


Letters to God


Taiyou no Uta (Jepang)

Law Abiding Citizen


Pay it Forward


The Machine Girl (Jepang)


Ghost Town


Cin(T)a



Pengen nonton filmnya? Titipin aja flashdisk, dan gue akan berikan semuanya gratis.

Anggap aja sebagai ucapan terima kasih karena udah buka blog ini. :)


Freaky club

Pernahkah kalian mendengarkan cerita ini? Anak laki-laki bangun pagi setiap harinya, kemudian pergi kuliah setelah sebelumnya terjebak macet rata-rata lima kali dalam seminggu, dan saat kuliah berlangsung sering kehilangan fokus hanya dalam waktu lima menit, begitu terus hingga kuliah usai, pulang ke rumah, melakukan kegiatan rutin seperti makan, shalat, (sedikit) belajar, dan tidur untuk mengulangi kegiatan yang sama keesokan harinya.
Apa yang kalian pikirkan setelah membaca cerita itu? Membosankan seperti berada di neraka. Yeah, itulah yang seringnya gue (atau mungkin sebagian dari kalian) rasakan di akhir-akhir masa remaja ini. Walau gue, tentu saja sudah melakukan banyak hal untuk mencurangi pola hidup itu, seperti mencoba rute dan waktu berangkat yang berbeda untuk menghindari macet atau lampu merah sialan, membaca blog-blog Budi Raharjo, Bena Kribo, atau Diana Rikasari via mobile ketika otak gue sudah tidak lagi bisa mencerna apa yang dikatakan dosen, atau bermalam di rumah teman untuk mendapatkan citarasa sarapan yang berbeda dari di rumah sendiri tiap minggunya (LOL :D). Kenyataannya itu belumlah cukup. Hidup gue tetap tidak produktif <--- Ini jika tidak mau dibilang membosankan. 

“Mungkin sebaiknya kamu mencoba sesuatu hal baru di luar kegiatan yang biasanya kamu lakukan jik.” Saran teman gue bernama Dhita. Untuk menghindari salah persepsi, gue beritahu dulu, pembicaraan kali ini tidak terjadi dalam sesi curhat. Kata curhat rasanya sangat tidak matching dengan kata cowok, jadi sebisa mungkin gue akan hindari kata itu. Selanjutnya, gue akan sebut ini konsultasi. Dan ini terjadi bukan karena gue mengeluh kesana kemari ke teman-teman gue, melainkan karena gadis yang satu ini menangkap ada sesuatu yang salah ketika gue keliling di DVD rental dengan tampang malas. Kami sudah berteman sejak lama, dan ketika deretan film-film pun tidak mampu mengusir raut bosan dari kulit wajah gue, itu berarti gue sedang berada di taraf bosan yang begitu tinggi. Dia tahu gue butuh sebuah sesi konsultasi. Tindakannya ini membuat gue sering berpikir, bahwa seperti inilah kriteria sahabat yang bisa diandalkan. 

“Apa dhit?”  Tanya gue. Orang bosan sering jadi tuli mendadak.
“Enggak tau deh kenapa, rasanya pengen banget menampar wajah kamu jik. Wajah itu sepertinya menjadi media penularan rasa bosan ke orang lain.” Katanya sambil cekikikan.

“Maaf?” “Haha, dari wajah kamu itu aja, aku udah tahu kalau kamu sebenarnya sedang mengalami bosan tingkat tinggi. Kenapa enggak ngelakuin sesuatu yang sama sekali baru supaya enggak bosan lagi jik?”

“Ceritakan ke aku kegiatan yang baru itu seperti apa?” Dhita menarik nafas panjang. Dia mestinya bersyukur karena diberi sesuatu yang sering tidak dimiliki orang lain, Kemampuan bersabar untuk menghadapi cowok bawel dan annoying.

“Dengarkan ini.” Katanya. “Sesuatu yang baru itu. Contohnya, seperti masuk menjadi anggota sebuah klub. Ini aku ambil contoh yang gampang lo.”

“Klub? Seperti klub pencinta binatang gitu? Atau sejenisnya.”

“Ya, seperti itu. Tapi aku enggak menyarankan masuk ke klub itu lo. Maksud aku, masuklah ke sebuah klub dari kegiatan yang kamu suka. Kan enak tu bertemu orang-orang yang punya kegemaran yang sama dengan kita? Aku yakin deh itu bisa jadi terapi dini untuk hidup Pojik yang ‘membosankan’.”

“Kedengarannya menarik.” Kata gue ogah-ogahan. “Beritahu aku dimana ada klub pecinta barang gratis.”

“Aku enggak tahu banyak tentang klub-klub yang ada di Medan ini, tapi kemaren pas buka-buka internet, aku nemu klub yang kayaknya cocok buat kamu jik, klub buat para maniak nonton. Namanya, Crazy Movie Club.”

“Itu klub apa? klub dimana kita bisa mendapatkan film gratis tiap minggunya?” “Ya kagak lah, Cuma klub yang memfasilitasi para penggila film di kota ini. Kadang-kadang mengadakan acara nonton bareng juga. Yang aku baca sih begetoh.”

“Ada syarat khusus kagak untuk masuk klub itu? selain membayar biaya keanggotaan tentunya.”

“Syaratnya WNI, dan tidak bawel.”

“Maksud aku syarat seperti misalnya, menyumbang 10 film untuk menambah koleksi database movie klub itu misalnya.”

“Oh iya, Pernah menonton film dari 10 negara berbeda? Itu salah satu syaratnya. Klub ini sepertinya cuma menampung penggila film sejati. Membernya juga enggak banyak-banyak amat.”

“Nggg, Aku ingat-ingat dulu deh ya, Pan’s labyrinth dari spanyol, 3 Idiots dari india, Crazy Little Things Called Love dari Thailand, Cold prey dari Norwegia, Children of Heaven dari Pakistan, Taiyou no Uta dari jepang, Tale of Two Sisters dari korea, film film boboho dari china, dream home hongkong, ditambah film2 indonesia dan barat, wah udah lebih dari sepuluh Negara lo. Baru sadar. Cuma itu dhit syaratnya?”

“Haha, dasar freak. Kagak! Kagak! Kagak ada syarat seperti itu. Aku main-main kok. Wek Itu cuma klub untuk orang-orang yang mengaku dirinya penggila film aja .”

“Semacam klub hobi biasa ya? Yah, mendengarnya aja aku udah ngerasa bosan.”

“Kalau memang pengen bosennya benar-benar hilang, masuk Suicide club aja deh.” Gerung Dhita.

Hening sejenak.

“What?”

“Iya, Suicide club. Klub bunuh diri. Kayak yang di Jepang itu lo. Itu kan klub untuk orang-orang yang bosan. Bosan hidup. Cocok deh masuk situ.”

“Kok rasanya jadi ngeri sendiri.”

“Ngeri?”

“Iyaaaa!”

“Kalau begitu hiduplah dengan benar pojikku. Jangan deh bersikap seolah dunia ini bakal runtuh hanya gara-gara rasa ‘bosan’ yang sebenarnya bukanlah apa-apa.”

Sekali lagi hening. Kata-katanya benar sekaligus menyudutkan. Gue Cuma bisa diam. Atau kalaupun ada yang bisa gue lakukan sekarang, mungkin pipis di celana.

“Cowok jangan lembek gitu dong.”

Gue tersudut lagi. Hening cukup lama.

“Kata-kata tadi membuka pikiranku dhit.” Akhirnya gue beranikan diri untuk ngomong.

“Maaf tadi keceplosan.” Balasnya sambil pura-pura melihat deretan film horror. Padahal sebenarnya dia paranoid.

“Yah, sedikit menusuk sih, tapi apa yang kamu bilang tadi itu benar-benar mencerahkan lo.”

“Hahaha, bawel, coba buktikan!”

“Buktikan? Gimana…” gue berpikir sejenak. “Oh ini buktinya, lihat, wajahku enggak ngebosenin lagi kan? Enggak menularkan kebosanan lagi kan?”

Yang ada gue cuma pasang tampang konyol.

“Hahaha, yah, paling enggak kamu udah berusaha.” Katanya sambil tertawa.

Gue? Cuma bisa manyun.

“Tau enggak jik, berlama-lama bosan menurut aku, merupakan salah satu bentuk lain dari tindakan tidak mensyukuri hidup yang telah Tuhan berikan ke kita.” Lanjutnya lagi.

Gue yang cuma bisa diam dan manyun, mengingat kata-kata tadi lekat-lekat. Merasa hidup ini membosankan, sama saja artinya tidak mensyukuri anugerah kehidupan. Gue sebenarnya kurang paham juga maksud kata-kata itu apa. Tapi kok rasanya pola pikir gue terbuka setelah mendengarnya. Atau karena yang ngomong cewek? Hahaha.

Semoga kedepannya, lingkaran keseharian ini ----> Pergi kuliah setelah sebelumnya terjebak macet rata-rata lima kali dalam seminggu, dan saat kuliah berlangsung sering kehilangan fokus hanya dalam waktu lima menit, begitu seterusnya dan bla bla bla bisa gue hadapi dengan lebih positif, maksudnya, gue ga akan berpikir bahwa hal-hal diatas itu membosankan. Begitu.
Atau semoga gue menemukan cara agar gue bisa mencurangi lingkaran keseharian itu dengan lebih baik.
Who knows what the hint will bring.


Thursday, March 17, 2011

My Favourite Movie (Comment and Wallpaper)

1.Definitely, Maybe
“Ya ampun, Rachel Weisz disini manis sekali :*)”

2.Despicable Me

“Walaupun jalan ceritanya biasa-biasa saja, kehadiran makhluk kuning bernama minions membuat film ini jadi tak terlupakan. Untuk karakterisasi, film ini Outstanding.”

3.The Sorcerer’s Apprentice
“Lupakan Jalan cerita atau aktor yang cakep atau ending yang mencengangkan, karena satu-satunya yang membuat film ini cukup pantas ditonton adalah spesial efeknya yang sangat enak dilihat mata.”

4.Toy Story 3
“Sama seperti dua seri sebelumnya, ending film ini menyentuh sekali…:) ditambah ada supporting character namanya Bonnie Anderson yang lucu abis. Adegan dimana ada Bonnie nya sering gue ulang-ulang. Lucu sih.”

5.Inception

“Walaupun menurut gue film ini tidak terlalu istimewa, tapi film ini membuat gue kepikiran terus setelah selesai menonton.”



6.Scott Pilgrim vs The World
“Akhirnya bisa ngelihat lagi tampang konyol Michael Cera (selepas film Year One), tapi dengan aksi yang lebih oke tentunya.”


7.500 Days of Summer
“Buat cowok-cowok gagah yang sering hancur berkeping-keping hanya karena sesuatu bernama “cinta”, film ini silahkan ditonton. Benar-benar mencerahkan.”


8.The Expendables
“Film ini menjual nama-nama besar para pemainnya, ada Stallone, Jet Li, dan mantan pegulat WWF yang dulu paling gue benci karena jarang sekali kalah, Steve Austin. Ga usah sok-sok mikir nonton film ini. Duduk manis, siapkan makanan, dan nikmati suguhan actionnya yang benar-benar berkelas.”

Wednesday, March 2, 2011

Night Story

Malam itu gue tidur lebih larut, bukan hanya karena keesokan harinya ada ujian yang mengharuskan gue belajar sampai malam, melainkan karena esok hari, orang yang gue anggap spesial akan ulang tahun dan gue tentu ingin menjadi orang yang pertama memberikan ucapan selamat.

Tepat pukul 00.00 gue mencoba mengubunginya. Telepon gue tidak diangkat. Pasti dia lagi tidur. Maka gue pun mengiriminya pesan dan berharap keesokan harinya ketika gue bangun, gue melihat satu pesan masuk, dan itu ucapan terima kasih dari dia.

Mungkin dia lagi tidak punya pulsa. Begitu pikir gue ketika keesokan paginya gue belum melihat ada juga balasan. Gue tunggu satu jam, dua jam, tiga jam. Tetap tidak ada balasan. Maka ketika bertemu dia di siang harinya, gue menyalaminya dan mengucapkan selamat ulang tahun lagi. Dia hanya tersenyum kecil. Dan mengucapkan satu kata saja : Thanks. Dan dia berlalu. Melihat sikap acuh tak acuhnya, gue hanya diam mematung. Gue lupa bahwa gue punya kado di ransel yang seharusnya gue berikan ke dia. 

Mungkin ulang tahun itu tidak terlalu berarti baginya. Atau mungkin gue yang tidak berarti apa-apa.
Tapi gue tetap pada pendirian bahwa dia itu spesial. Maka apa yang gue lakukan ke dia pasti selalu ‘lebih’ dari apa yang gue lakukan ke orang lain.

Setiap kali dia berwajah sedih, gue selalu berusaha mengibur. selalu menyapanya dengan senyum hangat. Sekalipun gue , setiap harinya, selalu saja diperlakukan sama. Tetap saja dianggap bukan siapa-siapa. 

Begitu terus hampir setahun hingga gue tidak tahan dan mencoba untuk bertanya langsung.

Waktu itu gue sengaja datang lebih pagi ke sekolah dan menunggunya di depan gerbang.
Untung bagi gue karena waktu itu dia datang sendiri. Gue menghentikan langkahnya.

“Erin, boleh bicara sebentar.”

Dia mengernyitkan kening. “Apa?” katanya.

Walau pasti terdengar aneh, gue langsung to the point saja.

“Kenapa dari dulu sampai sekarang aku tidak pernah dianggap rin? Setiap aku memulai obrolan, selalu saja tidak ditanggapi, sms-sms aku yang tidak pernah dibalas, telepon yang tidak pernah diangkat, dan…, aku hanya mau tahu kenapa.”

Dia menunjukan ekspresi aneh yang terus terang sangat tidak enak dipandang mata.

“Entahlah..” katanya melewati gue.

Gue tidak bisa menghentikannya karena kata “entahlah” itu, melemahkan kaki gue untuk berlari mengejar. Dan gue pun tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. 

***

Malam itu, gue tidur lebih larut, bukan karena besok ada ujian, bukan juga karena gue mau menjadi orang pertama yang memberikan ucapan selamat kepada seseorang. Kali ini, gue yang menunggu siapa yang pertama memberi gue ucapan selamat ketika gue ulang tahun.

Besok adalah hari ulang tahun gue yang ke 16, tidak sabar menunggu siapa yang pertama mengucapkan selamat. Gue punya kebiasaan untuk mentraktir orang-orang yang pertama kali say birthday ke gue.

Dan untuk orang yang gue harapkan menjadi yang pertama, sebut saja namanya Rika.

Berharap jika nanti telepon ataupun sms masuk, yang tertera di layar hp adalah nama dia.

Pukul 00.05, hp gue bergetar. Satu pesan masuk. Nama yang tertera di layar adalah nama cewek lain.
Gue memutuskan tidur saja dan berharap esok disekolah, ada yang ngasi kado. 

Maka gue pun tidak pernah terlalu bersemangat untuk pergi kesekolah kecuali di hari ulang tahun. Ga sabar membayangkan kado-kado dari temen deket gue, Kiki, Dwi, Hendra, Astrid. Hmmm. Gue buru-buru menuju kekelas dan gue berpapasan dengan cewek yang tadi malam menjadi orang pertama. Dia mengulurkan tangannya mau menyalami gue. Gue senyum kecil dan menyambut tangannya sebentar. Kemudian gue melanjutkan langkah gue menuju kelas walau gue melihat dia seperti ingin mengatakan sesuatu. Dan entah kenapa hari ini dia terlihat aneh. Ranselnya terlihat penuh dan kelihatan timpang dengan postur tubuhnya yang mungil.

Di hari-hari selepas hari ulang tahun, tidak terlalu banyak kemujuran yang gue alami. Selalu saja merasa kesepian. Selalu saja berharap di sms Rika duluan tapi itu tidak pernah terjadi. Kadang-kadang gue merasa tidak ada yang peduli. Tapi perasaan tidak dipedulikan orang lain itu sebenarnya tidak beralasan karena sebenarnya, ada beberapa orang yang rajin menanyakan kabar gue tiap malam, dan menyemangati gue tiap kali menjelang ulangan. Mungkin bukan tidak ada yang peduli, melainkan ada orang-orang tertentu yang tidak peduli.

Suatu hari, temen gue, yang juga merupakan teman akrab dari cewek yang rajin sms itu bertanya ke gue.

“Kenapa sih, kok kamu kelihatannya cuek banget ma si J itu.”

“Entahlah.” Kata gue. Tapi frase itu terdengar jelek. Gue jadi gue buru-buru meralatnya. “eh bukan, maksudnya, aku enggak terlalu suka aja ma si J itu.”
 
Temen gue itu geleng-geleng kepala. Gue merasa ada yang tidak beres.

“Iya..iya, gue tahu tampang gue pas-pasan, tapi kalau ga sreg sama orang lain ya mau gimana lagi.” Gue menambahkan.

Suasana hening. Setelah mengucapkan kata itu, gue jadi seperti mengingat sesuatu. Gue teringat Erin. Gue teringat bahwa dulunya, gue juga berada di posisi yang persis sama dengan si J ini. pikiran gue terbuka. Dan pertanyaan yang dari dulu tidak terjawab itu, akhirnya gue sendirilah yang menjawabnya.

Pada kenyataanya, dulu Erin memang tidak pernah suka dengan gue.

Suasana jadi benar-benar hening karena tidak ada satupun dari kami berdua yang berusaha memulai percakapan lagi. Gue menundukan kepala. Perasaan gue campur aduk. Dia melirik gue, dan akhirnya berkata pelan.

“Jadi, kamu memang tidak suka dengan si J? sedikit pun?”

Gue mengangguk.

“Tidak suka dengan seseorang bukan berarti kita harus bersikap sombong kepada seseorang itu kan?” Lanjut teman gue itu.

Gue tidak menjawab. 
Kata sombong yang diucapkannya itu sangat terdengar tidak enak di telinga.

***

Malam itu gue tidur lebih larut, bukan karena besok ada ujian, bukan juga karena menunggu siapa yang pertama kali mengucapkan selamat ulang tahun. Gue hanya menunggu hp si J aktif. 

Gue menelponnya dari sore dan hingga pukul sebelas malam hp nya belum juga aktif.

Gue tahu persis apa yang gue rasakan ketika dulu tidak pernah diacuhkan oleh Erin, dan gue memutuskan tidak akan melakukan hal seperti itu ke orang lain.
Gue hampir saja menyerah ketika sudah memasuki pukul dua belas dan hp nya belum juga aktif. Gue memutuskan untuk tidur dan mau tidak mau harus terus merasa bersalah sebelum hp gue bergetar lagi.
Dan walaupun gue tidak suka, gue benar-benar merindukan membaca nama itu di layar hp gue.

“Halo?” kata suara dari seberang sana. Suara si J.

“Halo. J.”

“Iya, maaf tadi lagi belajar hp nya dimatiin. Kenapa zi?” Tanyanya.

“Maaf ya malam-malam gini nelpon. Kamu lagi ngapain?”

“Kamu aneh zi. Ini tengah malam lo. Nanyanya gitu. Salah makan? Atau ga bisa tidur”
 
Gue menarik nafas panjang. Memikirkan kata yang tepat untuk mengakhiri basa-basi gue.
“J.”

“Ya?”

“ngg, seringnya kan kamu nanya seperti itu. Kali ini giliran aku. Boleh kan?”

“Tapi ini tengah malam lo. Waktunya ga tepat.”

“Kalau memang waktunya tidak tepat bertanya seperti itu, ya udah, aku Cuma mau ngucapin terima kasih.”
 
“Hah, Terima kasih apa?”

“Karena perhatiannya.”

“Perhatian apa?”

“Sms –sms itu, tulisan-tulisan di blog itu, sapaan tiap kali kita berpapasan di sekolah.”

Tidak ada jawaban.

“J?”

“Ini aneh. Sumpah ini benar-benar aneh. Dan aku ga nyangka”

“Ga nyangka apa?”

“Ga nyangka kamu bisa ingat semua itu. Selama ini aku pikir semua yang aku lakukan ke kamu itu, mungkin hanya mengganggu.”

Dia diam sebentar.

“Zi..” lanjutnya.

“Ya?”

“Aku senang.”

Gue tersenyum lega dan entah mengapa, juga merasa ikut senang.
Gue jadi sadar, sekalipun kita pernah disakiti orang lain, bukan berarti kita harus menyakiti orang lain juga kan.

Dan setelah percakapan telepon yang singkat itu, si J pun menjadi salah satu sahabat terbaik gue hingga saat ini.

Apa jadinya kalau dulu gue tetap saja acuh tak acuh persis seperti apa yang Erin lakukan ke gue?
Jumlah sahabat yang bisa gue andalkan mungkin berkurang satu.




Thursday, February 17, 2011

Positively No Smoking


Cause 1

Awal dari rasa sentimen gue dengan rokok sebenarnya sudah dimulai dari lima belas tahun lalu. Waktu itu nominal lima ribu rupiah masih terasa begitu tinggi, apalagi buat gue yang saat itu masih berumur lima tahun.

“Ini buat aku?” Tanya gue kegirangan ketika bokap menyerahkan selembar uang lima ribuan baru. Saat itu gue memang lagi butuh uang untuk beli lotere berhadiah mainan Gundam.

“Beliin Rokok dua bungkus sana. Kalau ada sisanya, ambil saja.” Jawab bokap gue.

Yang ada di pikiran gue yang masih kecil waktu itu adalah, ternyata, bagi bokap gue, rokok lebih penting dari kesenangan anak sendiri.

Yah, pola pikir gue memang masih sederhana. Tapi seandainya saja bokap gue bukan perokok berat, uangnya pasti bisa dialokasikan lebih banyak buat uang jajan gue.

Cause 2

Enam tahun kemudian, gue sudah duduk di kelas 6 SD. Suatu ketika, gue bersama tiga orang temen gue, yang bandel-bandel, nongkrong di kantin belakang sekolah (SD gue punya tiga kantin, dimana kantin belakang adalah kantin yang jauh dari pantauan guru). Salah satu temen gue membawa sebungkus rokok, hasil nyolong punya bokapnya. Dia membagikan rokok itu satu satu ke gue dan ke dua lainnya. 

“Ini gimana cara makenya?” Tanya gue waktu itu. Ragu dan agak tidak tertarik.

“Bakar ujungnya, kemudian hisap.” Kata temen gue yang punya rokok itu. Tampak dua temen gue yang lain sudah menyalakan rokok. Asap mengepul di ruangan kantin.

“Hanya dihisap?” Tanya gue. Mereka Cuma mengangkat alis. Sesekali mengeluarkan asap dari hidung. Hebat bener bisa keluar asap dari hidung, pikir gue waktu itu. Untung ga dari pantat.

Gue menghidupkan pemantik api dan menyalakan rokoknya. Kemudian gue letakan ujung rokok itu ke mulut, dan mengikuti instruksi temen gue tadi, menghisap rokoknya.

Tenggorokan gue serasa terbakar.

“Uhuk..uhuk..uhuk..” Gue batuk dengan hebat. Mata gue berkunang-kunang.

Semua temen gue ketawa. “Goblok, Asapnya jangan ditelen!”

Gue mematikan rokok itu dan membuanya ke tong sampah. Ruangan kantin dipenuhi tawa membahana. Tapi entah mengapa, itulah untuk pertama kalinya gue tidak merasa malu ketika ditertawakan. Malah gue bersyukur, gara-gara hal itu, pandangan gue kepada sesuatu bernama rokok menjadi lebih buruk dari sebelumnya.

Ada orang yang bisa menjelaskan ke gue apa enaknya makan asap?

Cause 3

Gue sedang dalam perjalanan naik bus dan disamping gue duduk laki-laki separuh baya dengan rokok di tangannya. Gue bukanlah orang yang gampang mabuk perjalanan. Lain halnya jika gue menghirup asap rokok. Gue bisa jadi mual dan pusing. 

Gue membuka jendela bus dan membalikan muka ke arah jendela, berharap mendapat angin segar. Tapi entah disengaja atau tidak, asapnya terus saja mengarah ke gue.

“hukk, uhuukk.” Gue batuk pelan. Takut menyinggung si perokok. Tapi rokoknya tetap tidak dimatikan. Gue melirik ke arahnya, memperhatikan ekpresi puas dari wajahnya karena rokok itu, kemudian gue melihat dia menghembuskan kepulan asap dari mulutnya, menerpa wajah gue.

“Uhukk, uhukk, oekk.” Gue refleks batuk. Karena tidak tahan lagi, gue batuk keras-keras agar dia sadar rokoknya itu baru saja meracuni paru-paru orang ganteng.

Dia memandang gue. “Maaf.” Katanya sambil memindahkan rokoknya dari tangan kiri ke kanan.
Dua menit kemudian, asap kembali menerpa wajah gue. Gue memandang ke samping dengan geram. Yang gue lihat hanya wajah puas dengan mata merem melek, dan hidung yang mengeluarkan asap.
Gue baru tahu kalau merokok ternyata bisa membuat orang jadi acuh tak acuh.

Cause 4

Gue masih ingat, waktu kelas sebelas, gue pernah punya teman wanita yang menolak cinta seorang cowok yang gue anggap ganteng. Karena akal sehat gue tidak bisa menerima hal-hal seperti itu, gue pun bertanya kepada orang yang bersangkutan.

“Aku bingung, kenapa sih kamu nolak dia?” Tanya gue penasaran. Guru matematika saat itu sedang berhalangan hadir sehingga ada dua jam kosong yang selalu dimanfaatkan oleh sebagian siswa untuk ngobrol.

“Kenapa bingung? Apa ada yang aneh ya?’ Tanyanya balik.

“Maksudku, si L itu kan, Ganteng. Kelihatannya baik lagi. Dia juga pintar kan? Terus terang aku kagum dengan dia, apalagi kalo main voli.”
 
“Oh haha.” Dia tertawa. “Ya aku juga kagum. Sedikit.”

“Terus?”

“Ya belum mau pacaran aja.” Katanya. “Lagipula, dia merokok.”

“Kenapa kalau dia merokok?” Gue semakin penasaran.

“Haha, deket ma orang yang merokok aja ga betah, apalagi dijadiin pacar.”

“Oh hahaha.” Gue ikutan ketawa. Tentu saja, gue bukan perokok. “Jadi, bukan perokok merupakan kriteria cowok idaman?”

“Bisa dibilang begitu lah.”

“Bagus, kalo gitu aku masih punya kesempatan.” 

“Hah apa?”

“Enggak! Enggak!” Gue memalingkan muka.

Dan pada akhirnya, sadar atau enggak, keputusan untuk tidak merokok memberikan banyak keuntungan yang tidak disangka-sangka buat gue, juga untuk orang-orang di sekitar gue.
Gue bangga menjadi orang yang tidak merokok.


Friday, February 4, 2011

My Paradoks

Kebiasaanku mengamati hal-hal kecil di sekitar mempertemukanku dengan orang-orang yang mempunyai kebiasaan unik. Salah satunya adalah Dia. Dari luar, Dia sama saja seperti remaja yang lain. Suka musik, gemar nonton film, dan punya ketertarikan besar terhadap lawan jenis. Kebiasaanku mengamati hal-hal kecil di sekitar, membuatku tahu kalau Dia itu sedikit berbeda. Bukan perbedaan penting, tapi bagiku cukup unik.

Pernah suatu hari ketika dia terserang demam film. Setiap harinya dia menonton lebih dari tiga film. Berburu dvd film malah menjadi rutinitas yang sejajar dengan makan ataupun tidur. Dia menjadi kacau. Paling tidak, kekacauan itu bisa dilihat dari caranya menghabiskan waktu. Saat penyakit kecanduan filmnya hampir tidak tertolong lagi, salah seorang cewek yang aku tahu adalah temannya, mengirimi dia sebuah tweet nasehat sederhana di twitter seperti ini :

“selamat pagi @dia no more movies for today, please!”

Mungkin tweet itu sebagai respon terhadap hastag #nowwatching dari dia yang sering wara-wiri tiap malam. 

Setelahnya, apa yang terjadi? Dia perlahan berubah. Sejauh yang aku amati, baik dari topik pembicaraannya yang tidak melulu tentang film lagi, hingga hashtag #nw nya yang hanya muncul di malam-malam libur.

Apakah dia menganggap serius pesan temannya di twitter itu atau dia hanya kehabisan film untuk ditonton? Masih terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan.

Aku tetap pada kebiasaanku mengamati hal-hal kecil. Tidak terlalu penting memang tapi kebiasaan tidak harus selalu penting bukan? Aku juga punya kebiasaan tidak penting lain seperti menggumam “Ckckck” kepada teman-temanku yang sering terlambat masuk kuliah. Kebetulan, hari ini dia juga terlambat. Berdiri di depan pintu dengan wajah memelas berharap diizinkan masuk oleh dosen. Dan jika izin itu sudah didapat, ia kemudian masuk tergopoh-gopoh sambil melihat sekililing, mencari bangku yang kosong. Aku baru saja bersiap untuk mengguman “ckckck” ketika dia melewati bangku tempatku duduk sebelum aku mendengar salah satu temannya mengucapkan sesuatu, dengan wajah yang sangat tidak mengenakan.

Sepintas aku melihat dia melempar senyum. Aku melihat senyum itu sebagai senyum penuh berbagai kemungkinan.Bisa saja dia tersenyum karena merasa senang masih ada yang peduli terhadapnya dengan mempertanyakan keterlambatannya itu, atau tersenyum miris, senyum yang dipasang untuk menghindari rasa malu kepada teman sendiri karena tidak disiplin. Buat orang-orang yang hidupnya terlalu serius, tidak disiplin bisa mempunyai arti yang sama dengan “pecundang”.


“Kok telat?” seharusnya itu kalimat pertanyaan biasa. Dua kata lazim yang tidak baku. Tapi lihat efek dari kalimat pertanyaan sederhana itu jika diarahkan ke orang yang tepat. Terhitung semenjak pertanyaan itu dilontarkan, jumlah pria yang mengetok pintu ketika kuliah pagi berlangsung jadi berkurang satu. 

Apakah kalimat yang dilontarkan itu begitu penting? Ataukah orang yang melontarkan pertanyaan itulah yang penting? Who know? Yang jelas, aku kini menyadari bahwa ada seseorang yang mulai berusaha untuk menjadi disiplin hanya gara-gara sebuah kalimat yang mungkin buat sebagian orang, tidak perlu terlalu dipikirkan.
Kejadian itu membuatku menyebutnya dengan julukan, “laki-laki yang punya kebiasaan mengingat nasehat-nasehat kecil.”
Sejujurnya, aku ingin sekali berbicara dengan orang-orang unik seperti dia. Ingin bertanya, apakah hanya sebuah nasehat kecil nan sederhana yang bisa membuatnya mengambil langkah maju. Bagaimana dengan mediator perubahan yang lain, seperti quote-qoute bagus di buku atau film.

“Jadi, apa yang membuatmu mengingat nasihat-nasihat kecil orang dengan sangat baik dan mengaplikasikannya?” tanyaku pada suatu kesempatan di taman kampus. Di depan kami ada beberapa perempuan yang sedang asyik ngobrol. Dari tadi aku melihatnya memandangi salah satu dari mereka.

“Well, sebenarnya, aku tidak mengingat kata-kata, atau mengingat nasehat.” Jawabnya.

Seperti yang telah aku cemaskan sebelumnya, aku terlalu cepat mengambil kesimpulan.

“Aku hanya, entah mengapa, suka menghargai perhatian orang. Baik perhatian manis ataupun skeptis.” Lanjutnya.

“Oh, menghargai perhatian? Hanya perhatian dalam bentuk kata-kata sajakah?” Tanyaku lagi.

“Lihat ini.” Katanya. Bangkit dari tempat duduk dan menghampiri (atau hanya melewati) sekumpulan perempuan yang dari tadi ia pandangi. Aku mengikutinya dari belakang.

Aku melihat dia melewati sekumpulan perempuan itu dan memandangi salah satu dari mereka. Dan dia tersenyum ketika perempuan yang ia pandangi dengan tatapan hangat itu melambaikan tangan. Hanya melambaikan tangan.

“Selanjutnya kamu hanya tinggal melihat” katanya.

“Lihat apa?” tanyaku bingung. Melihat berpindah pindah antara dia dan perempuan itu.

“Melihat bagaimana senyum ini bertahan sepanjang hari hanya karena lambaian tangan dari perempuan yang matanya minus 1,5 itu.”

Kata-katanya membingungkan. 

Yah, kebiasaanku mengamati hal-hal kecil disekitar tidak hanya mempertemukanku dengan banyak orang yang mempunyai kebiasaan unik, tetapi juga membuatku sadar, ada banyak orang yang kelihatannya baik-baik saja, ternyata justru sangat membutuhkan perhatian. 
Dan menunjukan kebutuhannya akan perhatian dengan menghargai setiap perhatian kecil yang diberikan kepadanya.