Showing posts with label From a boy to a man. Show all posts
Showing posts with label From a boy to a man. Show all posts

Thursday, December 23, 2010

Yang terbaik dari semester 3 (Part 3: Life)

Semester tiga gue adalah semester yang identik dengan masalah. Sesuatu yang bernama ‘Masalah’ ini menyerang semua aspek kehidupan gue. Gue benci masalah, tapi masalah mencintai gue. Ini adalah cinta sepihak yang menyebalkan.

Masalah cinta adalah salah satu masalah paling rumit. Faktanya, kisah cinta gue dengan liliput pertama merupakan kisah cinta paling menyedihkan yang pernah gue alami. Status gue sebagai pemuja rahasia abadi benar-benar memalukan. Jangan tanya gue bagaimana rasanya menjadi pemuja rahasia. Tanya saja Raditya Dika. Dia mampu menjelaskan dengan sangat baik bagaimana “sick” nya menjadi orang yang mencintai diam-diam. Berikut fragmen dari cerpennya di buku “Marmut Merah Jambu” yang gue anggap paling mewakili gue. Paling mewakili bagaimana rasanya menjadi orang hanya bisa mencintai dibelakang layar.

“Pada akhirnya, orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa mendoakan. Mereka cuma bisa mendoakan, setelah capek berharap, pengharapan yang dari dulu, yang tumbuh mulai kecil sekali, hingga makin lama makin besar, lalu semakin lama semakin jauh. orang yang jatuh cinta diam-diam paham bahwa kenyataan terkadang berbeda dengan apa yang kita inginkan. Terkadang yang kita inginkan bisa jadi yang tidak kita sesungguhnya kita butuhkan. Dan sebenarnya, yang kita butuhkan hanyalah merelakan. Orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa, seperti yang mereka selalu lakukan, jatuh cinta sendirian.” (best fragmen)

Sedikit banyak, sindrom “pemuja rahasia” itu ternyata berpengaruh besar terhadap tingkat kepercayaan diri gue. Kali ini, dari masalah cinta merambat ke masalah kejiwaan. Gue jadi ga percaya diri, bahkan untuk mencoba menyukai orang lain. Gue berpikir dan mungkin takut jika orang lain yang nantinya akan gue sukai bersikap sama seperti liliput pertama.

Gue mengalami masalah besar pada kepercayaan diri hingga gue bertemu dengan seseorang yang memberi gue kesempatan untuk merubah paradigma gue yang salah itu.

Semuanya berawal dari keberanian gue untuk mendekati orang lain dan keluar dari bayang-bayang Liliput Pertama. Perlahan tapi pasti, gue mulai suka dengan orang lain. Dan tanpa bercerita kepada siapapun, gue maju dan sebisa mungkin tidak menenteng status “pemuja rahasia” yang konyol itu. Tidak ada yang tahu. Gue merahasiakan ini dari siapapun. Hingga tiba saatnya gue untuk menyatakan perasaan.

Ya, orang yang aku sukai itu kamu.”

Begitulah kalimat penembakan gue waktu itu. Yah, memang bukan kalimat penembakan yang baik. Tapi paling tidak, dengan dikeluarkannya kata-kata itu ke udara, gue sukses menanggalkan status “orang yang mencintai diam-diam” yang sebelumnya melekat erat dalam diri gue.

Hal terbaik justru datang dari balasan kalimat penembakan gue diatas.

“Kok bisa?” Katanya.

“Ceritanya panjang.” Balas gue sangat grogi sekali. Panas dingin.

“Ya ampun.” Serunya. Tertawa. Lebar. Ya, tertawa. Tertawa senang.

Gue diterima dengan tawa bahagia. Lihat, ternyata kisah cinta gue ternyata ga selalu menyedihkan.
Tawa lebarnya dan bagaimana atmosfir perasaan yang terbentuk saat itu, merupakan moment terbaik yang gue alami di semester 3.

Masalah cinta, masalah percaya diri, tampaknya menemui jalan terang. Tapi tidak begitu dengan bagaimana jalannya hari-hari gue. Bagaimana labilnya perasaan gue. Bagaimana hopelessnya gue di akhir-akhir semester tiga gara-gara tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik, masalah keluarga, dan masalah kesehatan yang menumpuk dan berubah menjadi badai besar. Ya, badai besar yang ga akan bisa dimengerti oleh siapa-siapa.
Lagi-lagi gue suka bagaimana Raditya Dika menggambarkan situasi labil seperti ini dengan kata-katanya.

"Memang menyakitkan, segimana besarnya masalah kita, orang-orang lain akan tetap berjalan maju. Tidak akan memahami. Walaupun ketika kita cerita mereka pasti akan bilang “Gue tau gimana rasanya” Tapi mereka tidak bener-bener tahu. Karena mereka tidak dalam posisi kita. Tidak. Orang-orang lain akan tetap memperlakukan kita seperti orang biasa. Tanpa tau yang kita jalani. Tanpa tau apa yang sedang kita alami. Sebesar apapun badai yang ada di hati kita saat ini, the world will keep on moving, and I’ll keep on standing. (Di balik jendela-Cinta brontosaurus, Best description of guilty)"

Apa boleh buat, gue pun menjalani hari demi hari dengan diam. Menepis harapan bahwa akan ada seseorang yang mengerti. Yah, bukan mereka yang seharusnya mengerti. Gue yang seharusnya ngertiin diri gue sendiri. Terlalu bergantung kepada pengertian orang lain hanya akan membuat gue lemah. Lihat saja gue yang sekarang. Ini semua gara-gara gue terlalu mengandalkan orang lain untuk memberikan solusi atas semua masalah gue. Masa bodoh dengan teori makhluk sosial. Manusia tidak selalu membutuhkan pertolongan orang lain, terutama ketika mengalami masalah internal dalam diri. Atau, ketika tidak ada orang yang mau peduli dan mengerti.

Hari hari gue selanjutya, makin suram.Tanpa tujuan. Tanpa gairah. Satu-satunya hiburan yang bisa membuat gue sedikit merasa enakan adalah membaca wall to wall gue dengan odik. Gue menyimpan halaman wall to wallnya dan membukanya dikala senggang. Dan itu selalu berhasil membuat gue tersenyum. Lucu melihat bagaimana cara gue menanyai orang lain dengan pertanyaan dan candaan-candaan yang kurang penting, dan lucu melihat bagaimana pertanyaan kurang penting itu dibalas dengan panjangnya. Dan percayalah, kita akan merasa lebih baik ketika kita apa yang kita omongin ditanggapi oleh orang lain.

Wall to wall itu, adalah percakapan terbaik yang pernah gue lakukan di dunia maya.
Itu sedikit membantu gue untuk tetap waras disaat-saat sulit.

Satu bulan sebelum semester tiga berakhir adalah saat-saat paling berat. Sangat berat sehingga quotes favorit gue saat itu ialah “sh*t happens” yang kalo diartikan ke bahasa Indonesia menjadi “Sial itu biasa”.
Gue bisa saja menjadi sakit jiwa kalau gue ga punya teman yang baik-baik.

Ada satu teman yang paling gue ingat ketika jiwa gue sedang labil-labilnya. Teman yang sering mengatakan “semangat ya jik.” Ketika gue akan memulai praktikum. Teman yang bisa ditanya-tanya ketika teman gue yang lain terlalu sibuk untuk ditanya. Teman yang selalu menularkan keceriaannya ke gue.

Dia ini, teman yang sangat bisa diandalkan. Dia ini, teman yang selalu membuat gue melihat sisi terang dari semua kesialan yang gue alami.

Dia ini, teman yang membuat gue bertahan. Dia ini, adalah salah satu teman yang akan selalu gue ingat. Dia ini, teman yang baik.

Gue pun tetap bertahan menjalani hari-hari di akhir semester tiga yang menyebalkan. Biarpun yang membuatnya menyebalkan itu sikap gue sendiri. Ada suatu hari saat gue sangat putus asa dengan praktikum dan ga tahan lagi untuk tidak bercerita kepada orang lain. Gue menelepon salah seorang teman kepercayaan. Dhita. Gue ceritain semua masalah gue panjang lebar. Dia mendengarkan dengan seksama. Hanya mendengarkan.

“Kalo gitu keadaannya, aku juga ga tahu harus gimana. Kok kayaknya complicated amat yak.” Begitu jawabnya waktu itu.

Gue jadi pengen mati.” Balas gue saking sebelnya.

Ya ampun ozik. Apa-apaan sih itu. Cemen ah.”

“Terserah deh. Semua orang payah.”

Oh, beneran pengen mati? Beneran? Ga pengen lihat Indonesia juara piala AFF?

Aku serius dhit!

Aku juga serius kale. Heh, ga pengen hidup lebih lama lagi? Ga pengen tahu siapa cowok yang bisa naklukin liliput pertama? Ga pengen tahu younha bakal nikah ma siapa? Atau lu pengen mati sebagai mahasiswa yang sepanjang kuliahnya ga pernah dapat nilai diatas B? heh. Ga asik ah.”

Gue tahu dhita bercanda dengan omongannya. Tapi, jika dipikir-pikir, ada benarnya juga. Masalah-masalah ini hanya mempersempit pikiran gue. Padahal, jika dipikir-pikir sedikit lagi, ada banyak hal rupanya yang bisa membuat gue untuk tetap menjalani hari-hari dengan semangat. Ya, si dhita itu memang mengambil contoh yang mengada-ngada seperti siapa yang akan jadi suami liliput pertama, tapi biar bagaimanapun juga dia benar. Masih banyak yang harus diperjuangkan dari hidup ini. Masih perlu membanggakan orang tua. Masih harus membeli barang-barang yang ingin dibeli. Masih harus tobat karena kebanyakan dosa. Dan masih harus membalas kebaikan teman-teman kepada gue. Curhatan dengan dhita itu merupakan curhatan yang paling memberikan pencerahan. Gue jadi punya banyak alasan untuk berjuang menyelesaikan masalah masalah gue yang kebanyakan. Dan ngomong-ngomong, tentang kebaikan teman, di semester tiga akhir inilah gue paling banyak merasakannya.

Apa yang selalu akan gue ingat, adalah bantuan teman-teman gue di praktikum IMT.

Apa hal terbaik yang gue terima di semester tiga adalah bantuan di praktikum IMT.

Dan setelahnya, biarpun masalah selalu datang, biarpun kesialan sudah menjadi hal yang biasa, gue tetap bisa menegakan kepala. Kebaikan-kebaikan mereka itu membuat gue mampu membuang semua keluh kesah. Saatnya gue maju dan belajar dari kesalahan.

Setelah semua yang gue lalui itu, gue jadi sadar, bahwa masalah itu datang bukan untuk ditunggu sampai hilang dengan sendirinya. Masalah itu datang untuk diselesaikan. Ya, Life is not about waiting the storm to pass. It is about dance in the rain.

Friday, September 24, 2010

Early Future

Beberapa bulan yang lalu, tepatnya pada post yang ini, saya pernah menulis tentang saya di masa depan, kembali ke masa saat ini, dan protes soal rambut saya yang tidak rapi. Di post itu juga saya membuat sebuah dialog antara saya di masa depan dengan saya di masa sekarang seperti ini:

Saya (Fauzi dari tahun 2023):  “Mestinya rambut itu kamu rapikan sedikit.” (sambil tersenyum)

Dia (Fauzi di tahun 2010): (memegang rambutnya dan memandang saya dengan tatapan jengkel)

Saya: “Cewek itu suka yang rapi.”

Tentu saja, saya menulis dialog seperti itu tak lebih hanya berdasarkan imajinasi. Tapi siapa sangka, hanya selang empat bulan dari ketika saya menulis post itu, saya akhirnya benar-benar bertemu dengan seorang wanita yang benar-benar menjadikan kerapian sebagai bagian penting dari hidupnya.
Wanita itu, satu kampus dengan saya. Dan beberapa hari yang lalu, kami sempat ngobrol.


Saya: "Tolong dong, colokin kabel laptop ini ke situ." (sambil menyerahkan gulungan kabel charger laptop ke dia)
Dia(Wanita yang suka akan kerapian): "Ih, kabelnya kok gitu sih?"

Saya: (bingung) "emang kenapa kabelnya?" (sambil mengamati apakah ada bagian kabel yang sobek atau apa)

Dia: "Itu lo kabelnya, kok kayak gitu gulungannya."

Saya: Ini? (sambil mengangkat gulungan kabel yang memang agak berantakan)

Dia: "Iya. Coba sini kabelnya!"

Kemudian dia pun merapikan gulungan kabel yang tidak karuan itu. Setelah selesai dia memberikan kabel itu lagi ke saya, dan memang, gulungan kabel itu terlihat lebih rapi. 

Dia: "Begini kan lebih baik."

Saya hanya menghela nafas. Kemudian kami melanjutkan obrolan kami. Dan ditengah obrolan, muncul  lagi sesuatu yang harus saya ketahui tentang bagaimana pandangan wanita tentang kerapian.

Dia: "Jadi si A itu, orangnya rapi banget lo. Sampe-sampe bekas setrikaan di bajunya ga kelihatan lagi."

Saya: (melihat ke arah baju saya, yang walaupun udah disetrika, tetap saja kelihatan kusut)

Sekali lagi saya cuma bisa nyengir.

Dia: "kenapa nyengir?"

Saya: "Kamu suka sekali dengan kerapian ya?"

Dia: "Suka sekali."

Saya: "Kalau begitu, mungkin kamu akan pingsan melihat kamar saya."

Dia hanya tertawa. Mungkin karena kata-kata terakhir saya itu. Mungkin juga karena menertawai hidup saya yang tidak rapi.

 

Sunday, August 15, 2010

STOP??

Dua hari ke depan, akan ada diskusi kelompok lagi. Dua hari ke depan juga, laporan diskusi sebelumnya, bakal diserahkan.
Dan aku, sama sekali belum ada persiapan untuk dua hari kedepan itu.

***

“Aneh ya zi.” Begitu kata temen kampusku. Saat itu kami sedang berada di laboratorium patologi klinik.

“Apaan yang aneh?” Tanyaku pelan. Suara-suara sekecil apapun bisa menimbulkan masalah. Pembimbing praktikumnya lagi kesal karena tidak satupun dari kami yang membaca buku penuntun praktikum yang harganya mahal itu.

“Itu lo, kamu begitu seringnya cerita tentang ‘liliput pertama’ di blog. Tentang bagaimana kamu bertemu, menyapa, PDKT."

“Yang aneh dimananya?”

“Aneh, karena aku sama sekali belum pernah lihat apa yang kamu ceritakan di blog itu.”

Diam sejenak. Aku hanya mencoba memilih kata-kata yang tepat.

“Ya kalau itu sih. Karena tiap kali aku dekat dengan ‘dia’, entah kenapa orang-orang jadi banyak yang mengalami gangguan tenggorokan.”

“Gangguan tenggorokan?” Tanyanya heran.

“Iya, seperti eheemm..eheeem atau uhuuk..uhuuk.”

“Haha, salah kamu sendiri sih. Heboh.”

“Maksudnya heboh?”

“Heboh, cerita segalanya di blog sampe semua orang tahu. Walaupun pake nama samaran. Tetep ajah.”

Heboh itu adalah salah satu kata yang membuatku alergi.

“Apa sebaiknya aku berhenti cerita saja?”

Dia tidak menjawab. Mungkin tidak ingin menjawab.

Tapi bukannya itu bagus. Dengan begitu kan aku terpaksa membuat keputusan sendiri.

Katanya, seorang anak laki-laki bisa bertambah kedewasaanya jika sudah berani membuat keputusan.

 ***

Aku bangun sahur dengan perasaan tidak karuan. Kesal mendengar bunyi alarm. Dan dengan mata tertutup mencoba meraba tombol off nya. Tapi sekalipun alarm itu sudah mati, ajakan untuk bangun terus memukul-mukul kepalaku. Mungkin karena weker itu adalah bentuk dari pemberian yang tulus.

Aku berusaha bangun. Duduk di pinggiran kasur dan memandang cermin lemari di depan. Mata separuh terbuka. Rambut acak-acakan. Dan aku tidak melihat bayanganku di cermin. Aku pejamkan mata dan membukanya lagi lebar-lebar. Terlihat anak laki-laki dengan rambut super kusut..

Sama seperti rambut itu, hidupku juga tak kalah kusutnya.

Aku butuh sisi baik untuk membantuku merapikan hidup ini.

Aku menamainya, Aries.

Friday, August 13, 2010

From a Boy to a Man : Prologue


I wanna be laughed at, laughed with just because, I wanna feel weightless and that should be enough.
Itu adalah potongan lirik dari lagu all time low. Judulnya weightless. Beberapa hari sebelumnya, nada itu aku gunakan untuk bangun pagi.

Saat ini, aku menggunakannya untuk bangun sahur. 

Dan ketika lagu alarm itu berbunyi, aku bangkit dengan mata separuh terbuka. Kemudian bercermin. Aku tidak melihat apa-apa, selain rambut yang super kusut. Sebagian teman-teman memanggilku, si rambut kusut. Bukan panggilan yang bagus memang.
Tapi, katanya bentuk rambut bisa diubah. Sama seperti Hidup.

Masih jam tiga pagi. Kedinginan. Aku memutuskan tidur lagi. Hanya lima menit, karena jam weker yang aku letakan di samping bantal, berbunyi nyaring.

Jam weker yang berbunyi itu, jam weker pemberiannya.

“Jam weker ini, untuk apa?” Tanyaku. Waktu itu dia sempat main sebentar ke rumah. Dia adalah salah satu teman dekat saya ketika kelas 3 SMA sampai saat ini.

“Besok kan udah mulai puasa ji, itu supaya kamu bisa bangun sahur.” Dia tersenyum kecil.

“Aku kan bisa gunain alarm handphone toh.” Aku jawab seadanya.

“Habisnya kamu sering telat bangun. Jadi aku rasa, kamu perlu satu alarm lagi.” Balasnya.

“Hei, hei, kamu baru baca Cross game?” (dalam komik cross game vol 1: Wakaba Tsukhisima juga mengatakan hal yang sama)

Dia tersenyum. “Iya. Dan aku harap sih, kamu bisa terus mengingat untuk apa aku memberikan itu,”

Dia diam. Memandang hati-hati, kemudian melanjutkan. “Seperti kamu bisa terus mengingat dialog dalam komik yang kamu baca.”

Dia tahu bagaimana cara agar aku bisa mengingat suatu hal dengan lebih baik. Dia memanfaatkan hobiku membaca komik.

Namanya Heky, aku rasa, dia itu perhatian.


***


Saat ini bulan Ramadhan. Dan aku sudah bisa bangun pagi.Datang ke kampus dengan headset terus terpasang di telinga, terus begitu sampai dosen datang.

Seharusnya aku belajar. Tapi aku susah konsentrasi. Aku mengawang-awang. Kalau begini terus bagaimana?
Kadang-kadang aku tidak mengerti dengan diri sendiri. Sisi gelap ini begitu dominan. Stress.

Untung saya aku punya beberapa teman yang peduli. Teman yang selalu bertanya setiap kali aku membuat sebuah status yang aneh-aneh, baik di facebook ataupun twitter. Teman yang selalu bertanya setiap kali saya topeng “I’m OK” yang biasa aku kenakan pudar.

“Kenapa zi?” Itu pertanyaan Marcel kemarin.

Itu saja sudah membuat aku sedikit lega.

Kemudian, satu hal yang menghantui, adalah Ujian yang tinggal seminggu lagi. Rasa-rasanya seperti terkena suatu “kutukan”. Kutukan yang membuat nilai ujian -Terlalu biasa-biasa saja-.

Untuk beberapa alasan, hal itu sering membuatku down. Aku ini underdog. Barangkali begitu.
Aku sampai pada keputusan untuk merubah situasi dan kondisi ini.
Aku tahu ini bukan rencana yang pertama. Ini adalah rencana yang kesekian kalinya. Ini adalah rencana yang kedelapan. Dan semuanya gagal.
Tapi sama seperti model rambut, katanya Hidup itu bisa diubah.


***


Kebiasaanku setiap tahun adalah menuliskan daftar Harapan, menyimpannya di suatu tempat rahasia, kemudian dilihat di akhir tahun apakah semua harapan-harapan yang aku tulis itu bisa tercapai.

Kebiasaanku juga untuk melibatkan orang lain menyaksikan bagaimana aku mewujudkan harapan-harapan itu.
Ada banyak harapan. Mendapat Nilai yang lebih baik adalah salah satunya.

Itu bisa menjadi sesuatu yang bagus di hari-hari peralihan saya dari remaja lelaki menjadi seorang lelaki dewasa.
Punya banyak teman baru, juga termasuk salah satu harapan .
Beberapa minggu terakhir aku sering berkomunikasi dengan salah seorang teman baru. Namanya Jecky. Kemarin sempat saling berkirim pesan.

“Smgt ya bg! Ganbatte ne!” begitulah Jecky mengakhiri pesannya kemarin.

“OK. Harus semangat! B-) Haha” . Aku balas seperti itu. Padahal saat itu persentase semangat dalam jiwa hampir mencapai titik nol.

Semangat yang hampir mencapai nol itu indikasi bahaya.

Tapi itu bukan masalah, toh jika gaya rambut bisa diubah, Hidup juga pasti bisa.