Tuesday, March 22, 2011

Sexy South Indian Actress Sheela, Hot Sheela Latest Wallpapers & Picture

Sheela is a famous South Indian actress who was born on 14 May, 1984 in Chennai. She has acted in Tamil, Telugu, Malayalam and Kannada movies. Sheela looks so cute .Sheela's ambition is to be the next number one heroine in Tamil. Sheela, a pretty young actress, made her debut as heroine with the Telugu film Seethakoka Chiluka and later with Ilavattam in Tamil. Sheela appeared as Maya in Malayalam film Maya Bazaar (2007). The actress came in to the limelight after acting for Bhaskar's Parugu opposite actor Allu Arjun. Her latest movies in Malayalam include 'Thanthonni' and 'Makeup Man'. In 2009 Sheela was seen in Hansika Motwani and Ram starring Maska and Kannada movie Prem Kahani. Anyways Check out here Sexy South Indian Actress Sheela, Sheela Latest Hot Wallpapers & Sheela Hot Pictures.

Sheela Latest Hot WallpapersSheela Latest Hot WallpapersSheela Latest Hot WallpapersSheela Latest Hot Wallpapers

Monday, March 21, 2011

My New 'Movie Collection'

Di bulan ini gue ngapain aja? Kasak kusuk di ujian blok seminggu yang lalu, istirahat berlebihan di rumah karena sakit setelah ujian (anehnya gue ga gemuk-gemuk padahal kerjaan cuma makan melulu), menyesuaikan diri di blok yang baru (blok 13: Mukosa dan periodontal 2), hingga mati-matian berusaha untuk tidak suka sama orang lain, tapi akhirnya suka juga sama…ngggg sama si itu lo. Hahaha. Nanti deh diceritain. <---- Minta digampar.

Nah, Kegiatan-kegiatan absurd yang gue sebutin diatas, secara tidak langsung berpengaruh terhadap geliat gue dalam usaha untuk mengumpulkan banyak film. Akibatnya, di bulan yang sok sibuk ini, gue cuma bisa mengumpukan 15 film. Hasil minta dan pinjem sana-sini, download sendiri untuk film-film langka, dan yang paling menyesakan dada, beli sendiri, khususnya film-film jepang yang rasa-rasanya ga mungkin temen gue punya.
Berikut daftar-daftar film yang baru saja masuk ke hardisk gue. Beberapa diantaranya malah jadi favorit, contohnya Scott Pilgrim vs The World. (Highly Recommended buat yang suka film-film aneh hehehe)

Recently Added

Scott Pilgrim vs The World


Due Date


Band Slam


Terminator Salvation


Phobia (Thailand)


127 Hours


Tron Legacy


The Next Three Days


The Sorcerer’s Apprentice


Letters to God


Taiyou no Uta (Jepang)

Law Abiding Citizen


Pay it Forward


The Machine Girl (Jepang)


Ghost Town


Cin(T)a



Pengen nonton filmnya? Titipin aja flashdisk, dan gue akan berikan semuanya gratis.

Anggap aja sebagai ucapan terima kasih karena udah buka blog ini. :)


Freaky club

Pernahkah kalian mendengarkan cerita ini? Anak laki-laki bangun pagi setiap harinya, kemudian pergi kuliah setelah sebelumnya terjebak macet rata-rata lima kali dalam seminggu, dan saat kuliah berlangsung sering kehilangan fokus hanya dalam waktu lima menit, begitu terus hingga kuliah usai, pulang ke rumah, melakukan kegiatan rutin seperti makan, shalat, (sedikit) belajar, dan tidur untuk mengulangi kegiatan yang sama keesokan harinya.
Apa yang kalian pikirkan setelah membaca cerita itu? Membosankan seperti berada di neraka. Yeah, itulah yang seringnya gue (atau mungkin sebagian dari kalian) rasakan di akhir-akhir masa remaja ini. Walau gue, tentu saja sudah melakukan banyak hal untuk mencurangi pola hidup itu, seperti mencoba rute dan waktu berangkat yang berbeda untuk menghindari macet atau lampu merah sialan, membaca blog-blog Budi Raharjo, Bena Kribo, atau Diana Rikasari via mobile ketika otak gue sudah tidak lagi bisa mencerna apa yang dikatakan dosen, atau bermalam di rumah teman untuk mendapatkan citarasa sarapan yang berbeda dari di rumah sendiri tiap minggunya (LOL :D). Kenyataannya itu belumlah cukup. Hidup gue tetap tidak produktif <--- Ini jika tidak mau dibilang membosankan. 

“Mungkin sebaiknya kamu mencoba sesuatu hal baru di luar kegiatan yang biasanya kamu lakukan jik.” Saran teman gue bernama Dhita. Untuk menghindari salah persepsi, gue beritahu dulu, pembicaraan kali ini tidak terjadi dalam sesi curhat. Kata curhat rasanya sangat tidak matching dengan kata cowok, jadi sebisa mungkin gue akan hindari kata itu. Selanjutnya, gue akan sebut ini konsultasi. Dan ini terjadi bukan karena gue mengeluh kesana kemari ke teman-teman gue, melainkan karena gadis yang satu ini menangkap ada sesuatu yang salah ketika gue keliling di DVD rental dengan tampang malas. Kami sudah berteman sejak lama, dan ketika deretan film-film pun tidak mampu mengusir raut bosan dari kulit wajah gue, itu berarti gue sedang berada di taraf bosan yang begitu tinggi. Dia tahu gue butuh sebuah sesi konsultasi. Tindakannya ini membuat gue sering berpikir, bahwa seperti inilah kriteria sahabat yang bisa diandalkan. 

“Apa dhit?”  Tanya gue. Orang bosan sering jadi tuli mendadak.
“Enggak tau deh kenapa, rasanya pengen banget menampar wajah kamu jik. Wajah itu sepertinya menjadi media penularan rasa bosan ke orang lain.” Katanya sambil cekikikan.

“Maaf?” “Haha, dari wajah kamu itu aja, aku udah tahu kalau kamu sebenarnya sedang mengalami bosan tingkat tinggi. Kenapa enggak ngelakuin sesuatu yang sama sekali baru supaya enggak bosan lagi jik?”

“Ceritakan ke aku kegiatan yang baru itu seperti apa?” Dhita menarik nafas panjang. Dia mestinya bersyukur karena diberi sesuatu yang sering tidak dimiliki orang lain, Kemampuan bersabar untuk menghadapi cowok bawel dan annoying.

“Dengarkan ini.” Katanya. “Sesuatu yang baru itu. Contohnya, seperti masuk menjadi anggota sebuah klub. Ini aku ambil contoh yang gampang lo.”

“Klub? Seperti klub pencinta binatang gitu? Atau sejenisnya.”

“Ya, seperti itu. Tapi aku enggak menyarankan masuk ke klub itu lo. Maksud aku, masuklah ke sebuah klub dari kegiatan yang kamu suka. Kan enak tu bertemu orang-orang yang punya kegemaran yang sama dengan kita? Aku yakin deh itu bisa jadi terapi dini untuk hidup Pojik yang ‘membosankan’.”

“Kedengarannya menarik.” Kata gue ogah-ogahan. “Beritahu aku dimana ada klub pecinta barang gratis.”

“Aku enggak tahu banyak tentang klub-klub yang ada di Medan ini, tapi kemaren pas buka-buka internet, aku nemu klub yang kayaknya cocok buat kamu jik, klub buat para maniak nonton. Namanya, Crazy Movie Club.”

“Itu klub apa? klub dimana kita bisa mendapatkan film gratis tiap minggunya?” “Ya kagak lah, Cuma klub yang memfasilitasi para penggila film di kota ini. Kadang-kadang mengadakan acara nonton bareng juga. Yang aku baca sih begetoh.”

“Ada syarat khusus kagak untuk masuk klub itu? selain membayar biaya keanggotaan tentunya.”

“Syaratnya WNI, dan tidak bawel.”

“Maksud aku syarat seperti misalnya, menyumbang 10 film untuk menambah koleksi database movie klub itu misalnya.”

“Oh iya, Pernah menonton film dari 10 negara berbeda? Itu salah satu syaratnya. Klub ini sepertinya cuma menampung penggila film sejati. Membernya juga enggak banyak-banyak amat.”

“Nggg, Aku ingat-ingat dulu deh ya, Pan’s labyrinth dari spanyol, 3 Idiots dari india, Crazy Little Things Called Love dari Thailand, Cold prey dari Norwegia, Children of Heaven dari Pakistan, Taiyou no Uta dari jepang, Tale of Two Sisters dari korea, film film boboho dari china, dream home hongkong, ditambah film2 indonesia dan barat, wah udah lebih dari sepuluh Negara lo. Baru sadar. Cuma itu dhit syaratnya?”

“Haha, dasar freak. Kagak! Kagak! Kagak ada syarat seperti itu. Aku main-main kok. Wek Itu cuma klub untuk orang-orang yang mengaku dirinya penggila film aja .”

“Semacam klub hobi biasa ya? Yah, mendengarnya aja aku udah ngerasa bosan.”

“Kalau memang pengen bosennya benar-benar hilang, masuk Suicide club aja deh.” Gerung Dhita.

Hening sejenak.

“What?”

“Iya, Suicide club. Klub bunuh diri. Kayak yang di Jepang itu lo. Itu kan klub untuk orang-orang yang bosan. Bosan hidup. Cocok deh masuk situ.”

“Kok rasanya jadi ngeri sendiri.”

“Ngeri?”

“Iyaaaa!”

“Kalau begitu hiduplah dengan benar pojikku. Jangan deh bersikap seolah dunia ini bakal runtuh hanya gara-gara rasa ‘bosan’ yang sebenarnya bukanlah apa-apa.”

Sekali lagi hening. Kata-katanya benar sekaligus menyudutkan. Gue Cuma bisa diam. Atau kalaupun ada yang bisa gue lakukan sekarang, mungkin pipis di celana.

“Cowok jangan lembek gitu dong.”

Gue tersudut lagi. Hening cukup lama.

“Kata-kata tadi membuka pikiranku dhit.” Akhirnya gue beranikan diri untuk ngomong.

“Maaf tadi keceplosan.” Balasnya sambil pura-pura melihat deretan film horror. Padahal sebenarnya dia paranoid.

“Yah, sedikit menusuk sih, tapi apa yang kamu bilang tadi itu benar-benar mencerahkan lo.”

“Hahaha, bawel, coba buktikan!”

“Buktikan? Gimana…” gue berpikir sejenak. “Oh ini buktinya, lihat, wajahku enggak ngebosenin lagi kan? Enggak menularkan kebosanan lagi kan?”

Yang ada gue cuma pasang tampang konyol.

“Hahaha, yah, paling enggak kamu udah berusaha.” Katanya sambil tertawa.

Gue? Cuma bisa manyun.

“Tau enggak jik, berlama-lama bosan menurut aku, merupakan salah satu bentuk lain dari tindakan tidak mensyukuri hidup yang telah Tuhan berikan ke kita.” Lanjutnya lagi.

Gue yang cuma bisa diam dan manyun, mengingat kata-kata tadi lekat-lekat. Merasa hidup ini membosankan, sama saja artinya tidak mensyukuri anugerah kehidupan. Gue sebenarnya kurang paham juga maksud kata-kata itu apa. Tapi kok rasanya pola pikir gue terbuka setelah mendengarnya. Atau karena yang ngomong cewek? Hahaha.

Semoga kedepannya, lingkaran keseharian ini ----> Pergi kuliah setelah sebelumnya terjebak macet rata-rata lima kali dalam seminggu, dan saat kuliah berlangsung sering kehilangan fokus hanya dalam waktu lima menit, begitu seterusnya dan bla bla bla bisa gue hadapi dengan lebih positif, maksudnya, gue ga akan berpikir bahwa hal-hal diatas itu membosankan. Begitu.
Atau semoga gue menemukan cara agar gue bisa mencurangi lingkaran keseharian itu dengan lebih baik.
Who knows what the hint will bring.